Monday, May 26, 2008

Aksi 26 Mei 2008 yang Membuat Hati Pedih



Mengapa aku sering mempertanyakan peran teman-temen mahasiswa yang lain dalam perubahan zaman yang ada di bumi pertiwi ini? Hal ini adalah karena tidak jauh dari kehidupanku, yaitu kehidupan kampus dan mahasiswanya, yaitu UNPAD khususnya dan mahasiswa yang ada di Bandung umumnya.

Hari itu hari senin, 26 Mei 2008. Seperti biasa aku sudah siap-siap akan berangkat kuliah yang ada di Bandung hari itu merupakan kuliah terakhir untuk semester ini. Tapi ada sms dari seorang teman yang menanyakan apakah aku akan ikut aksi atau kuliah. Aku nanya balik ke teman itu, aksi apa dan dari mana. Dia bilang kalo dia juga dapat sms dari kepala departemennya yang ada di BEM. Aku sebenarnya sempat bertanya dalam hati mengapa aku tidak dapat jarkom, tapi aku langsung segala fikiran negative yang sempat terlintas di dalam kepalaku. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut aksi dan bolos kuliah. Aku juga mengajak teman-teman yang ada di kosan, tapi mereka ternyata juga tidak dapat jarkom. Akhirnya aku berangkat dengan teman yang meng-sms tadi, hanya berdua saja.

Sesampainya di MPR DU (tempat berkumpulnya para peserta aksi), aku sangat shock. Aku sangat terkejut sekali, karena dari semua aksi yang pernah aku ikut turun, aksi itulah yang paling membuat hatiku miris dan sedih. Ya miris dan sedih, KENAPA??? Ya iyalah, masa kumpulan orang-orang yang hanya terdiri dari lebih kurang 30 orang itu disebut sebagai aksi??? Yang benar saja, masa itu adalah merupakan aksi BEM sebandung raya??? Kumpulan dari teman-teman BEM UPI, ITB dan UNPAD disebut aksi ??? Kemana teman yang lain???  Apakah hanya 30 orang itu yang peduli akan penderitaan rakyat???

Akhirnya aku langsung menanyakan masalah itu kepada korlap putri di dalam aksi itu. Dan dari jawaban korlap itulah aku tahu bahwa aksi ini memang kurang di gembar-gemborkan sehingga hanya segelintir orang saja yang tahu. Akhirnya pertanyaan mengapa aku tidak dijarkom terjawab sudah. Pada saat mendengar jawaban itu sebenarnya aku sangat ingin marah sekali, ingin berteriak APAKAH TIDAK ADA KOORDINASI DARI 3 UNIVERSITAS BESAR DI INDONESIA ITU?!?! APAKAH PENGURUS BEM DARI KETIGA UNIVERSITAS ITU TIDAK MENGKOORDINASIKAN HAL ITU DENGAN TEMAN-TEMAN MAHASISWA LAIN YANG BUKAN PENGURUS?!?! KEMANA PERGINYA MAHASISWA YANG PENUH IDE?!?!

Aku sangat heran sekali, namanya aksi yang bisa mengerahkan banyak massa tapi kok terkesan eksklusif sekali. Aksi adalah sekulompok massa yang berkumpul dengan tujuan yang sama. 

Wajar saja sekarang para pemimpin di atas sana hanya memandang kita mahasiswa dengan sebelah mata saja. Wajar saja jika suara kita mahasiswa yang idealis hanya dianggap angin lalu saja oleh pejabat-pejabat diatas sana, wajar saja jika aksi-aksi kita selama ini tidak dihiraukan oleh para bapak-bapak kita di atas sana, karena kita saja tidak bersatu. Bila kita tercerai berai maka sangat susah untuk mencapai suatu tujuan. 

Ada juga yang membuatku heran ketika aku bertanya pada sala seorang teman wanita di dalam aksi itu yang kebetulan aku tahu adalah merupakan pengurus BEM Universitas. Kira-kira seperti ini percakapan kami

 “Teh kok orangnya cuma dikitan ya, lagian jarkomnya gimana sih teh, banyak teman di kosan yang ngga tahu tentang aksi ini padahal biasanya kalo ada aksi mereka dijarkomin dan ikut turun. Trus akhirnya mereka pada nanyain gitu, tapi karena jawaban saya juga tadi mungkin kurang jelas mereka akhirnya memutuskan untuk ngga ikut. Tadi saya juga sempat mikir jangan-jangan ini aksi dari BEM FMIPA aja” kataku seperti itu.

 Jawab si teteh “iya sih soalnya baru kemarin dikonsepinnya kalo sekarang ada aksi. Lagian kalo dah tau ada aksi yang pake alamamter ikut aja kali, karena pasti dari Unpad, soalnya kan pake alamater”.

Aku hanya mengangguk, tapi anggukanku menyiratkan banyak makna. Pokoknya aku tidak mau lagi menayakan tentang koordinasi BEM Universitas dengan BEM yang ada di fakultas. Tapi didalam hati aku mencatat dan bertanya, kalau kita tahu ada sebuah aksi tapi tidak tahu siapa yang mempelopori aksi itu, apakah kita harus ikut turun aksi??? Trus dimanakah nilai kritis mahasiswa yang pernah diajarkan saat training-training di setiap LK???

Hal tadi juga membuat hatiku miris, karena ucapan itu keluar dari mulut seorang aktivis. Aku tahu bahwa jawabannya tadi sebenarnya merupakan pembelaan diri terhadap dirinya, teman-temannya dan BEM Universitas. Bila komentarnya tadi ditujukan pada aktivis-aktivis yang sudah faham akan mekanisme sebuah aksi, maka sangat wajar bila komentarnya tersebut dibenarkan. Tapi bagaimana jika didengar oleh teman-teman yang “kurang cerdas” dalam artian tidak faham akan mekanisme aksi tapi karena naiknya harga BBM menimbulkan sikap kepedulian bagi dirinya sendiri sehinga ia ingin ikut turun aksi, mengertikah dia??? atau kita biarkan dia tetap dalam ketidaktahuannya dengan lasan-alasan pembenaran terhadap kesalahan kita??? 

Aku sangat berharap agar ucapan seperti tadi tidak terlontar lagi dari seorang aktivis mahasiswa. Karena kita adalah agent of change, sebelum mengubah bangsa ini, maka kita harus mengubah orang-orang di sekeliling kita, minimal berpola fikir seperti kita.

HIDUP MAHASISWA !!!



BANGKIT !!!



LAWAN !!!



HANCURKAN TIRANI !!!


No comments:

Post a Comment