Friday, May 23, 2008

Adik Kecil Pedagang Koran

Add caption

Hari ini aku duduk di depan gedung D1 Psikologi Unpad. Seperti biasa aku melihat adik kecil yang membawa koran dan menjajakannya kepada mahasiswa yang ada di kampus ataupun orang-orang lewat yang kebetulan ia temui. 

Bedanya dengan adik-adik kecil lainnya yang kulihat, kali ini adik kecil  itu tidak memakai pakian lusuh seperti adik kecil lainnya yang biasanya kulihat di kampus. Kali ini adik kecil itu memakai sebuah seragam, yang bagi orang awam yang pernah merasakan nikmatnya sekolah, akan langsung mengenali bahwa baju putih biru bahan kaos itu adalah baju olah raga. Adik kecil itu melahatku dan menghampiriku, dia lalu menawarkan korannya padaku, tapi aku menolak dengan halus karena di kosan aku sudah berlangganan koran.

Umur adik kecil itu mungkin hanya berkisar 7-8 tahun dan tidak lebih, tapi perjuangan anak kecil itu seperti perjuangan seoran pemuda yang berumar 27-28 tahun. Aku tidak tahu persis digunakan untuk apa keuntungan hasil penjualan koran itu. Tapi untuk apa pun itu, apakah sudah saatnya adik kecil itu diperas tenaganya untuk mencari uang setelah pulang sekolah?

Tidak hanya satu atau dua yang aku temukan hal seperti itu, tetapi sudah sangat sering sekali. Dan hal seperti itu kadang-kadang tidak membuat orang yang melihatnya iba karena seringnya melihat hal seperti itu. Padahal mereka melakukan itu dengan berbagai macam alasan. Ada yang katanya ingin menambah uang jajan, ada yang ingin membantu orang tua untuk meringankan biaya sekolah, dan tidak jarang pula mereka melakukan hal itu untuk sesuap nasi.

Sering aku bertanya pada diriku sendiri ataupun orang-orang di sekelilingku “kok bisa ya?” , “padahal kan udah 100 tahun kebangkitan nasional.” Banyak jawaban yang kudengar, tapi tidak ada jawaban yang menunjukkan, mengarahkan atau memberi jalan keluar.

Kita mungkin bisa saja pura-pura tidak melihat atau menutup mata kita akan perjuangan hidup mereka, kita mungkin bisa pura-pura tidak mendengar atau menutup telinga kita akan rintih tangis mereka, tapi apakah kita sanggup pura-pura tidak peduli atau menutup hati nurani kita?

No comments:

Post a Comment