![]() |
| Add caption |
Hari ini aku duduk di depan gedung D1
Psikologi Unpad. Seperti biasa aku melihat adik kecil yang membawa koran dan
menjajakannya kepada mahasiswa yang ada di kampus ataupun orang-orang lewat
yang kebetulan ia temui.
Bedanya dengan adik-adik kecil lainnya yang
kulihat, kali ini adik kecil itu tidak
memakai pakian lusuh seperti adik kecil lainnya yang biasanya kulihat di
kampus. Kali ini adik kecil itu memakai sebuah seragam, yang bagi orang awam
yang pernah merasakan nikmatnya sekolah, akan langsung mengenali bahwa baju
putih biru bahan kaos itu adalah baju olah raga. Adik kecil itu melahatku dan
menghampiriku, dia lalu menawarkan korannya padaku, tapi aku menolak dengan
halus karena di kosan aku sudah berlangganan koran.
Umur adik kecil itu mungkin hanya
berkisar 7-8 tahun dan tidak lebih, tapi perjuangan anak kecil itu seperti perjuangan
seoran pemuda yang berumar 27-28 tahun. Aku tidak tahu persis digunakan untuk
apa keuntungan hasil penjualan koran itu. Tapi untuk apa pun itu, apakah sudah
saatnya adik kecil itu diperas tenaganya untuk mencari uang setelah pulang
sekolah?
Tidak hanya satu atau dua yang aku
temukan hal seperti itu, tetapi sudah sangat sering sekali. Dan hal seperti itu
kadang-kadang tidak membuat orang yang melihatnya iba karena seringnya melihat
hal seperti itu. Padahal mereka melakukan itu dengan berbagai macam alasan. Ada
yang katanya ingin menambah uang jajan, ada yang ingin membantu orang tua untuk
meringankan biaya sekolah, dan tidak jarang pula mereka melakukan hal itu untuk
sesuap nasi.
Sering aku bertanya pada diriku
sendiri ataupun orang-orang di sekelilingku “kok bisa ya?” , “padahal kan udah
100 tahun kebangkitan nasional.” Banyak jawaban yang kudengar, tapi tidak ada
jawaban yang menunjukkan, mengarahkan atau memberi jalan keluar.
Kita mungkin bisa saja pura-pura tidak
melihat atau menutup mata kita akan perjuangan hidup mereka, kita mungkin bisa
pura-pura tidak mendengar atau menutup telinga kita akan rintih tangis mereka,
tapi apakah kita sanggup pura-pura tidak peduli atau menutup hati nurani kita?

No comments:
Post a Comment