Sudah lama sekali tidak menuliskan ide-ide,
pikiran-pikiran, pandangan-pandangan, opini-opini, or whateverlah yang ada in
my mind… Yah, hampir setahun lamanya banyak hal yang ingin kutuangkan
sebenarnya ke dalam bentuk tulisan, tapi apalah daya, karena sibuk dengan
ketidaksibukan, akhirnya pikiran dan ide-ide yang terlintas di kepala, menguap
begitu saja, kadang dengan jejak, kadang tanpa jejak sama sekali,
wuisss... seperti halnya hembusan angin.
Sekarang aku sudah tidak aktif lagi dalam
Lembaga Kegiatan Mahasiswa. Yah, mungkin ini salah satu pengaruh mengapa sudah
tidak pernah lagi meyempatkan sedikit waktuku untuk menuliskan ide-ide atau
pikiran-pikiran yang sempat singgah dikepalaku,
yang punya daya tampung yang
terbatas ini. Sebenarnya rindu akan kesibukan terdahulu, tapi aku tahu dan
sadar, waktu akan terus berputar, dan regenerasi zaman adalah suatu
keniscayaan yang pasti terjadi.
Jadi karena sudah tidak begitu aktif di
lembaga kegiatan mahasiswa, yah mungkin lintasan-lintasan yang ada di kepalaku
saat ini lebih fokus pada makna hidup, alur hidup, atau segala sesuatu yang
berkaitan tentang hidup, tidak hanya seputar idealisme seorang aktivis
mahasiswa saja, tapi aku dengan sangat sadar menuangkan segala yang terlintas
dikepalaku sebagai seorang manusia.
Hal pertama yang kuangkat adalah tentang kat
“MAAF”. Kita pasti sering mendengar atau mengucapkan kata ini. MAAF bukanlah
kata yang asing di telinga kita. MAAF sangat familiar, baik di telinga atau
di lidah kita. Tapi apakah dia mudah meluncur dari bibir kita atau ringan
terdengar di telinga kita, diikuti dengan hati yang lapang??? Wallahua’alam
bishowab. Kadang-kadang kesombongan kita, keegoisan kita, ego manusia kita
sangat besar untuk mampu mengucapkan kata-kata tersebut di lidah kita. Atau keangkuhan
diri kita, kekejaman fikiran kita atau keserakahan kita membuat telinga kita
tidak tahan untuk mendengar kata MAAF. Meminta maaf memang sangatlah berat. Aku
sangat salut pada seseorang yang dengan rasa kerendahan hatinya, bukan berarti
dia menjatuhkan harga dirinya, untuk meminta maaf. Meminta maaf bukanlah
berarti menjatuhkan harga diri kita, bukan berarti menggerogoti habis jiwa
kita, bukan berarti menurunkan derajat kemuliaan kita sebagai mahluk tertinggi
di hadapan Allah, bukan berarti mengurangi kehebatan-kehebatan yang kita
miliki. Berani meminta maaf adalah salah satu cara menunjukkan rasa penyesalan
dari kesalahan yang telah kita perbuat, maaf berarti membuat jiwa kita semakin
besar dan mampu lebih lapang untuk menerima kesalahan kita, maaf menunjukkan
penghargaan kepada seseorang yang telah dengan berani menegur kesalahan kita.
Karena, ketika seseorang masih mau menegur kita karena kesalahan kita, maka itu
adalah salah satu bentuk perhatian orang tersebut pada kita. Tapi ada yang membuatku
lebih salut dibanding meminta maaf dengan berani, sadar, dan hati yang lapang.
Yaitu memberi maaf dengan senyuman, sadar, dan hati yang lapang. Meminta maaf,
kadang-kadang terlihat sangat sulit untuk dilakukan, karena seolah-olah
mengikis sebagian harga diri kita. Namun, ternyata ada yang lebih sulit lagi
dilakukan, yaitu memaafkan. Memaafkan kadang-kadang jauh lebih sulit dilakukan,
apa lagi ketika kesalahan yang diperbuat oleh orang lain sangat menyakiti hati
kita atau berdampak sangat dalam pada kehidupan kita. Bahkan, kadang-kadang
kesalahan kecil pun sangat sulit untuk kita maafkan. Namun memaafkan sangatlah
mengajarkan hal penting dalam hidup. Ketika kita berani memaafan, maka kita
sudah merintis hidup kita menjadi seorang yang berjiwa besar, berlapang dada,
belajar menjadi seorang pemurah, dan yang paling penting adalah kita lebih bisa
belajar ikhlas.
Seperti kata-kata yang sangat aku suka, yang
berkaitan dengan ilmu yang kudalami saat
ini, kimia, dari sebuah novel MAMIMOMA,
“Asam klorida biasanya lebih memiliki efek
merusak pada wadah tempat ia disimpan daripada objek ia dituang. Seperti itulah
efek kebencian pada hati, kebencian hanya akan lebih menyakiti dan merusak hati
kita dari pada orang yang kita benci….”.
Hal kedua yang tidak kalah pentingnya yang
menguji keikhlasan kita dalah kesabaran. Ya SABAR. Kata sabar juga sudah tak asing
ditelinga kita. Namun kadang-kadang sungguh sangat sulit untuk dilakukan.
Kadang-kadang karena ego kita, kita melalaikan rasa sabar tersebut, hanya untuk
menunjukkan keangkuhan kita. Seperti Riwayat seorang sahabat Rasulullah,
“Taubat itu wajib bagi seseorang, tapi lebih
wajib lagi baginya untuk meninggalkan dosa. Perjalanan waktu itu sangat
mengherankan, tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu.
SABAR ITU SULIT, TAPI HILANGNYA KESABARAN ITU LEBIH SULIT AKIBATNYA. Semua yang
bisa dicapai itu dekat, tapi kematian itu lebih dekat dari semuanya (Ali Bin
Abi Thalib).
Terima kasih…. Ternyata bukan hanya kata MAAF
yang kadang-kadang kelu diucapkan oleh lidah kita. Kadang-kadang ketika
mengungkapkan rasa terimakasih kita pada seseorang sangat sulit dilakukan.
Padahal, terimakasih merupakan ungkapan yang singkat yang memilki dampak yang
saaaangatttttt besar. Beberapa hari belakang, atau mungkin sebulan kebelakang ini,
aku diajarkan oleh sesorang, yang dengan sangat mudahnya mengucapkan terima kasih.
Kata ini sangat kecil dan singkat, namun memberikan efek yang sangat besar bagi
orang yang mendengarkan, apa lagi pada orang yang di tuju. Mungkin aku juga
harus belajar membiasakan mengucapkan kata-kata tersebut tulus dari
hatiku. Banyak hal yang harus patut aku syukuri. Artinya aku juga harus
sering-sering berterima kasih kepada sang Khalik, yang telah memberikan
orang-orang yang telah hadir di dalam hidupku.
TERIMA KASIH YA ALLAH,,,,

No comments:
Post a Comment