Hari ini kulalui hari seperti biasanya, pergi berangkat kuliah, ku mulai menyusuri jalan raya Jatinangor, masuk ke gang-gang kecil dan melewati rumah demi rumah yang tatanannya kurang rapi. Seperti biasa lagi, aku mulai menunggu angkot gratisan yang memang dikhususkan untuk civitas Unpad. Tapi entah mengapa hari ini aku ingin menuliskan apa yang terlintas di fikiranku. Padahal sebenarnya hal tersebut sudah lama menetap di kepalaku dan berputar-putar di dalam.
Ku lihat pemandangan, yang sama dengan
pemandangan hari sebelumnya di hari lain ketika menunggu angkot gratisan.
Mahasiswa berebut satu angkot bagai semut yang berkerumun pada satu permen
karet bekas yang terbuang di dekat halaman dapur rumah. Oke, itu merupakan
pemandangan yang merupakan tak asing lagi bagiku dan sering kunikmati atau mahasiswa lainnya yang sering menunggu angkot
gratisan dan tak jarang pula aku menjadi bagian dari pemandangan itu. Bagaimana
tidak, karena aku hanya seorang mahasiswa sederhana yang berasal dari keluarga
sederhana pula. Namun, yang membedakan aku dari para mahasiswa yang ada di
pemandangan tadi adalah bahwa aku seorang yang idealis, yang peduli akan
kesejahteraan mahasiswa dan rakyat dan semoga selalu begitu.Aku tidak tahu
dengan “teman-teman seperjuangan” di pemandangan tadi. Saking banyaknya nilai-nilai idealis yang berputar di kepalaku,
sampai-sampai aku tidak tahan untuk tidak menuangkan buah pikiranku menjadi
sebuah tulisan, kalau ini masih bisa disebut tulisan bukan ketikan.
Aku sering berfikir mengapa pihak
birokrat tidak mencari cara yang lebih efektif untuk mengoptimalkan angkot
garatis di Unpad. Misalnya saja, angkot gratisan hanya lima buah untuk
mengangkot puluhan ribu mahasiswa yang ada di Unpad, lalu waktu
operasional dari angkot itu tidak jelas.
Waktu operasional yang tidak jelas akan
menyusahkan mahasiswa. Misalnya contoh dekat adalah aku sendiri. Pada hari kapan
aku lupa tepatnya, aku naik angkot gratisan jam 2 siang. Tapi pada beberapa hari
yang lalu, aku ingin naik angkot gratisan pukul 1 siang ternyata sudah tidak
ada. KENAPA YA….??? Ko' jamnya tidak jelas seperti itu, seakan-akan jam
operasional angkotnya sesuka si sopir angkot itu sendiri seolah-olah angkot itu
adalah miliknya sendiri. Padahal angkot gratisan merupakan salah satu hak
mahasiswa yang difasilitasi oleh pihak Unpad. Jadi pasti lebih baik jika waktu
operasional angkot gratisan diperjelas dan diefektifkan, karena, mengapa jam 2
bahkan jam 12 ke bawah tidak ada angkot gratis, padahal jam kuliah mahasiswa masih ada sampai jam 5?
Di sini sepertinya ada ketimpangan,
dan bila bila pun kebijakan yang memberlakukan peraturan seperti itu,
seharusnya disosialisasikan kepada para mahasiswa, agar tidak terjadi miss communication di sini. Karena
bagaimana pun juga,mahasiswa adalah pemeran utama di dalam kampus. Kampus
bukanlah perusahaan jasa, tapi merupakan lembaga pendidikan yang menawarkan
ilmu bagi para mahasiswa dan memfasilitasi mahasiswa. Namun, yang kita lihat,
atau subjek yang memandang dipersempit, yang saya lihat, kita mahasiswa hanya
dianggap sebagai para pengguna jasa yang membayar jasa tersebut, lalu
mendapatkan jasa tersebut tanpa bisa menuntut apa-apa dari kejelasan biaya yang
dikeluarkan oleh mahasiswa. Sebenarnya masih banyak lagi hak-hal yang timpang
yang dapat kita lihat di dalam dunia kampus, khususnya bila menyangkut dana
kemahasiswaan yang merupakan hak mahasiswa.

No comments:
Post a Comment