Friday, May 23, 2008

Angkot Gratisan di Unpad


Hari ini kulalui hari seperti biasanya, pergi berangkat kuliah, ku mulai menyusuri jalan raya Jatinangor, masuk ke gang-gang kecil dan melewati rumah demi rumah yang tatanannya kurang rapi. Seperti biasa lagi, aku mulai menunggu  angkot gratisan yang memang dikhususkan untuk civitas Unpad. Tapi entah mengapa hari ini aku ingin menuliskan apa yang terlintas di fikiranku. Padahal sebenarnya hal tersebut sudah lama menetap di kepalaku dan berputar-putar di dalam.

Ku lihat pemandangan, yang sama dengan pemandangan hari sebelumnya di hari lain ketika menunggu angkot gratisan. Mahasiswa berebut satu angkot bagai semut yang berkerumun pada satu permen karet bekas yang terbuang di dekat halaman dapur rumah. Oke, itu merupakan pemandangan yang merupakan tak asing lagi bagiku dan sering kunikmati atau  mahasiswa lainnya yang sering menunggu angkot gratisan dan tak jarang pula aku menjadi bagian dari pemandangan itu. Bagaimana tidak, karena aku hanya seorang mahasiswa sederhana yang berasal dari keluarga sederhana pula. Namun, yang membedakan aku dari para mahasiswa yang ada di pemandangan tadi adalah bahwa aku seorang yang idealis, yang peduli akan kesejahteraan mahasiswa dan rakyat dan semoga selalu begitu.Aku tidak tahu dengan “teman-teman seperjuangan” di pemandangan tadi. Saking banyaknya nilai-nilai idealis yang berputar di kepalaku,  sampai-sampai aku tidak tahan untuk tidak menuangkan buah pikiranku menjadi sebuah tulisan, kalau ini masih bisa disebut tulisan bukan ketikan.

Aku sering berfikir mengapa pihak birokrat tidak mencari cara yang lebih efektif untuk mengoptimalkan angkot garatis di Unpad. Misalnya saja, angkot gratisan hanya lima buah untuk mengangkot puluhan ribu mahasiswa yang ada di Unpad, lalu waktu operasional  dari angkot itu tidak jelas.

Waktu operasional yang tidak jelas akan menyusahkan mahasiswa. Misalnya contoh dekat adalah aku sendiri. Pada hari kapan aku lupa tepatnya, aku naik angkot gratisan jam 2 siang. Tapi pada beberapa hari yang lalu, aku ingin naik angkot gratisan pukul 1 siang ternyata sudah tidak ada. KENAPA YA….??? Ko' jamnya tidak jelas seperti itu, seakan-akan jam operasional angkotnya sesuka si sopir angkot itu sendiri seolah-olah angkot itu adalah miliknya sendiri. Padahal angkot gratisan merupakan salah satu hak mahasiswa yang difasilitasi oleh pihak Unpad. Jadi pasti lebih baik jika waktu operasional angkot gratisan diperjelas dan diefektifkan, karena, mengapa jam 2 bahkan jam 12 ke bawah tidak ada angkot gratis, padahal jam kuliah mahasiswa masih ada sampai jam 5?

Di sini sepertinya ada ketimpangan, dan bila bila pun kebijakan yang memberlakukan peraturan seperti itu, seharusnya disosialisasikan kepada para mahasiswa, agar tidak terjadi miss communication di sini. Karena bagaimana pun juga,mahasiswa adalah pemeran utama di dalam kampus. Kampus bukanlah perusahaan jasa, tapi merupakan lembaga pendidikan yang menawarkan ilmu bagi para mahasiswa dan memfasilitasi mahasiswa. Namun, yang kita lihat, atau subjek yang memandang dipersempit, yang saya lihat, kita mahasiswa hanya dianggap sebagai para pengguna jasa yang membayar jasa tersebut, lalu mendapatkan jasa tersebut tanpa bisa menuntut apa-apa dari kejelasan biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa. Sebenarnya masih banyak lagi hak-hal yang timpang yang dapat kita lihat di dalam dunia kampus, khususnya bila menyangkut dana kemahasiswaan yang merupakan hak mahasiswa.

No comments:

Post a Comment