Waktu itu aku mendengar sebuah kisah nyata
dari seorang teman lama. Kisah yang sangat menggugah hati manusia yang masih
punya nurani, dan mungkin hanya cerita biasa saja atau tidak berarti apa-apa
bagi manusia yang telah menjual atau kehilangan hati nuraninya.
Kisah ini terjadi saat Si teman lama ingin
berangkat ke Bandung. Si teman lama naik sebuah bis umum. Di bis, teman lama
melihat seorang penumpang sedan berdialog dengan pak kondektur, dalam bahasa
sunda tentunya. Tapi waktu menceritakan kisah ini, Si teman lama sudah
mentransletenya dalam bahasa Indonesia.
Kurang lebih seperti ini dialognya :
Penumpang
: sepi ya pak?
Kondektur : iya mas. Emang sekarang mah penumpang dah pada jarang. Kalo dulu
mah ngga’ kaya gini, mana ntar BBM mau naik lagi. Belum naik aja, penumpang dah
pada sepi kaya gini. Soalnya penumpang kan pinginnya harga ongkos murah.
Misalnya aja kalo diminta ongkosnya, itu suka kurang dikasihnya. Kata penumpang,
emang biasa segitulah atau mahal bangetlah, dan kalo diminta kurangnya suka
sambil ngedumel dulu baru dikasih. Engga kebayang mas kalo sampai BBM naik,
ngga tau nanti nasib bis ini apakah beroperasi atau tidak. Soalnya setoran kan
juga harus dikasih ke yang punya bis, padahal suka nombok kalo setorannya ga
nyampe. Kan jadi rugi mas.
Itulah sekilas keluh kesah seorang kondektur
bis jurusan Bandung-Cirebon. Masih ada lagi kisah yang ingin kuceritakan.Kisah
ini aku sendiri yang mengalaminya. Kisah ini terjadi saat aku membeli gorengan
dan lotek ketika aku pulang dari kampus. Aku membelinya di warung yang dekat
dengan kosanku. Aku sudah lama mengenal bapak si penjual gorengan. Saat lotek
dibuat oleh istri si bapak gorengan , aku membuka percakapan dengan si bapak.
Kira-kira percakapannya seperti ini:
Aku : pak sekarang harga minyak goring
berapaen?
Bapak :
udah naek sekarang neng. Ada yang 12.500 ada juga yang 12.300.tergantung
belinya dimana neng, suka beda-beda. Padahal baru 2 hari yang lalu mah masih
10.500-en neng.
Aku : wah, udah mahal ya pak. Kalo harga
minyak tanah berapa-eun pak?
Bapak : 2.700-eun neng. Padahal BBM belum naek
neng tapi harga-harga barang dah pada naek. Gimana nanti kalo naik neng, ngga
tau dah mau gimana lagi.
Aku : kalau pembagian kompor gas di sini
udah belum sih pak?
Bapak : ngga ada tuh neng. Kayanya mah
mendingan ga usah aja, soalnya pasti lebih mahal neng. Mending harga minyak
tanah aja yang di mahalin sedikit neng. Jadi kalo uangnya 10.000-eun masih bisa
masak. Tapi kalo uang 10.000 ngga akan cukup beli gas yang 3 kiloan. Lihat aja,
kalo beli gas sekarang yang 3 kiloan neng harganya mahal, ada yang 15.000-eun
ada yang 16.000-eun, ada juga yang sampe 17.000-eun.Tergantung juga beli dimana.
Itu
merupakan ungkapan-ungkapan polos dari salah seorang rakyat kecil kepada salah seorang mahasiswa yang kebetulan
adalah aku. Tapi bukan suatu kebetulan juga karena Allah SWT pasti telah
menuliskannya dalam takdirku dan takdir si bapak gorengan. Tapi ungkapan si
bapak gorengan bisa jadi merupakan analogi dari jeritan hatinya. Sama halnya
juga yang terjadi di kisah pertama tadi, yaitu keluh kesah seorang kondektur
bis.
Jadi dari 2 kisah tadi sebenarnya timbul pertanyaan besar tentang kebijakan-kebijakan yang sering diputuskan oleh pemerintah. Sebenarnya atas dasar apa mereka sering memutuskan sebuah kebijakan. Bila pada akhirnya ternyata tidak merupakan solusi yang tepat untuk masyarakat, jadi solusi tepat bagi siapa sebenarnya kebijakan itu? Atau sebenarnya ada pihak lain yang merasa diuntungkan dengan kebijakan yang diambil?
Jadi dari 2 kisah tadi sebenarnya timbul pertanyaan besar tentang kebijakan-kebijakan yang sering diputuskan oleh pemerintah. Sebenarnya atas dasar apa mereka sering memutuskan sebuah kebijakan. Bila pada akhirnya ternyata tidak merupakan solusi yang tepat untuk masyarakat, jadi solusi tepat bagi siapa sebenarnya kebijakan itu? Atau sebenarnya ada pihak lain yang merasa diuntungkan dengan kebijakan yang diambil?
No comments:
Post a Comment