Sunday, May 25, 2008

Dialog dengan Masyarakat yang Tertindas



Waktu itu aku mendengar sebuah kisah nyata dari seorang teman lama. Kisah yang sangat menggugah hati manusia yang masih punya nurani, dan mungkin hanya cerita biasa saja atau tidak berarti apa-apa bagi manusia yang telah menjual atau kehilangan hati nuraninya.

Kisah ini terjadi saat Si teman lama ingin berangkat ke Bandung. Si teman lama naik sebuah bis umum. Di bis, teman lama melihat seorang penumpang sedan berdialog dengan pak kondektur, dalam bahasa sunda tentunya. Tapi waktu menceritakan kisah ini, Si teman lama sudah mentransletenya dalam bahasa Indonesia.

Kurang lebih seperti ini dialognya :
Penumpang        : sepi ya pak?
Kondektur      : iya mas. Emang sekarang mah penumpang dah pada jarang. Kalo dulu mah ngga’ kaya gini, mana ntar BBM mau naik lagi. Belum naik aja, penumpang dah pada sepi kaya gini. Soalnya penumpang kan pinginnya harga ongkos murah. Misalnya aja kalo diminta ongkosnya, itu suka kurang dikasihnya. Kata penumpang, emang biasa segitulah atau mahal bangetlah, dan kalo diminta kurangnya suka sambil ngedumel dulu baru dikasih. Engga kebayang mas kalo sampai BBM naik, ngga tau nanti nasib bis ini apakah beroperasi atau tidak. Soalnya setoran kan juga harus dikasih ke yang punya bis, padahal suka nombok kalo setorannya ga nyampe. Kan jadi rugi mas.


Itulah sekilas keluh kesah seorang kondektur bis jurusan Bandung-Cirebon. Masih ada lagi kisah yang ingin kuceritakan.Kisah ini aku sendiri yang mengalaminya. Kisah ini terjadi saat aku membeli gorengan dan lotek ketika aku pulang dari kampus. Aku membelinya di warung yang dekat dengan kosanku. Aku sudah lama mengenal bapak si penjual gorengan. Saat lotek dibuat oleh istri si bapak gorengan , aku membuka percakapan dengan si bapak. 

Kira-kira percakapannya seperti ini:
Aku            : pak sekarang harga minyak goring berapaen?
Bapak        : udah naek sekarang neng. Ada yang 12.500 ada juga yang 12.300.tergantung belinya dimana neng, suka beda-beda. Padahal baru 2 hari yang lalu mah masih 10.500-en neng.
Aku               : wah, udah mahal ya pak. Kalo harga minyak tanah berapa-eun pak?
Bapak        : 2.700-eun neng. Padahal BBM belum naek neng tapi harga-harga barang dah pada naek. Gimana nanti kalo naik neng, ngga tau dah mau gimana lagi.
Aku              : kalau pembagian kompor gas di sini udah belum sih pak?
Bapak        : ngga ada tuh neng. Kayanya mah mendingan ga usah aja, soalnya pasti lebih mahal neng. Mending harga minyak tanah aja yang di mahalin sedikit neng. Jadi kalo uangnya 10.000-eun masih bisa masak. Tapi kalo uang 10.000 ngga akan cukup beli gas yang 3 kiloan. Lihat aja, kalo beli gas sekarang yang 3 kiloan neng harganya mahal, ada yang 15.000-eun ada yang 16.000-eun, ada juga yang sampe 17.000-eun.Tergantung juga beli dimana.

Itu merupakan ungkapan-ungkapan polos dari salah seorang rakyat kecil kepada salah seorang mahasiswa yang kebetulan adalah aku. Tapi bukan suatu kebetulan juga karena Allah SWT pasti telah menuliskannya dalam takdirku dan takdir si bapak gorengan. Tapi ungkapan si bapak gorengan bisa jadi merupakan analogi dari jeritan hatinya. Sama halnya juga yang terjadi di kisah pertama tadi, yaitu keluh kesah seorang kondektur bis. 

Jadi dari 2 kisah tadi sebenarnya timbul pertanyaan besar tentang kebijakan-kebijakan yang sering diputuskan oleh pemerintah. Sebenarnya atas dasar apa mereka sering memutuskan sebuah kebijakan. Bila pada akhirnya ternyata tidak merupakan solusi yang tepat untuk masyarakat, jadi solusi tepat bagi siapa sebenarnya kebijakan itu? Atau sebenarnya ada pihak lain yang merasa diuntungkan dengan kebijakan yang diambil?

No comments:

Post a Comment