Saturday, May 24, 2008

Naiknya Harga BBM



Hmm… sudah lama tidak menulis karena sibuk… tapi sekarang sudah banyak ide.

Harga BBM naik, rakyat semakin sengsara. Dana BLT mulai mengucur, tapi hanya sampai beberapa bulan mendatang saja dana itu akan sedikit membantu rakyat sedangkan harga BBM akan selamanya naik, setelah itu rakyat akan semakin menderita saja.
 
Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana sih sebenarnya pertimbangan pemerintah untuk memutuskan kebijakan untuk menaikkan harga BBM. Tapi keputusan pemerintah seharusnya jalan terakhir yang ditempuh untuk mengatasi melambungnya harga  minyak dunia. Banyak dana sebenarnya yang bisa dibatasi penggunaannya selain menaikkan harga BBM. Mengurangi dana yang tidak penting yang digunakan oleh para anggota DPR seperti studi banding ke luar negri, misalnya.


Banyak kemunafikan yang terjadi di bumi pertiwi ini. Banyak dusta yang terlontar dari mulut-ulut kotor dari para penguasa di Indonesia yang kita cintai ini. Banyak keserakahan yang akhirnya membuat rakyat sengsara. Misalnya saja kita perhatikan kita kutip kata-kata wapres Jusuf Kalla. Katanya “kalau ada yang mencegah harga BBM naik maka orang itu membantu orang-orang kaya semakin kaya”.


Seharusnya dari kata-katanya itu, Jusuf Kalla dapat berfikir lagi bahwa apakah dengan menaikkan harga BBM akan mengurangi harta orang-orang kaya dan malah membantu rakyat kecil jawabannya adalah, TIDAK!!! Malah sebaliknya, orang-orang kaya merasa tidak terbebani dengan naiknya harga BBM karena mereka merasa dengan naiknya harga BBM hanya menambah sedikit pengeluaran dari yang biasanya mereka keluarkan, justru rakyatlah semakin sengsara.


Belum lagi tentang masalah dana BLT. Dana BLT diturunkan ketika BBM mulai naik yang berarti naiknya pula harga barang dan jasa yang pada akhirnya akan menyebabkan rakyat menderita di bumi pertiwi yang kaya ini.

Dana BLT yang diturunkan ke masyarakat sebenarnya merupakan hal yang tidak efektif dalam keadaan sekarang ini. Karena hal tersebut tidak mendidik masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan. Seharusnya pemerintah tidak terus-menerus memberi ikan kepada pemancing, tetapi sudah saatnya untuk memberikan kail. Dalam hal ini, pemerintah dapat membuka lahan baru dalam bidang usaha yang dapat membuka kesempatan lapangan kerja bagi rakyat dan sekaligus dapat menambah pendapatan Negara.

Sering aku mempertanyakan tentang kebangkitan nasional. Sudah 100 tahun kebangkitan nasional, tapi mengapa banyak anak bangsa yang malah jatuh tersungkur dan lumpuh??? Dimana-mana para pemerintah mendahulukan kepentingan individu atau kepentingan golongannya. Jarang sekali ditemukan pejabat yang memerhatikan kepentingkan rakyat. Segala kebijakan diputuskan untuk mengangkat kepentingan para pembuat kebijakan.


Friday, May 23, 2008

Adik Kecil Pedagang Koran

Add caption

Hari ini aku duduk di depan gedung D1 Psikologi Unpad. Seperti biasa aku melihat adik kecil yang membawa koran dan menjajakannya kepada mahasiswa yang ada di kampus ataupun orang-orang lewat yang kebetulan ia temui. 

Bedanya dengan adik-adik kecil lainnya yang kulihat, kali ini adik kecil  itu tidak memakai pakian lusuh seperti adik kecil lainnya yang biasanya kulihat di kampus. Kali ini adik kecil itu memakai sebuah seragam, yang bagi orang awam yang pernah merasakan nikmatnya sekolah, akan langsung mengenali bahwa baju putih biru bahan kaos itu adalah baju olah raga. Adik kecil itu melahatku dan menghampiriku, dia lalu menawarkan korannya padaku, tapi aku menolak dengan halus karena di kosan aku sudah berlangganan koran.

Umur adik kecil itu mungkin hanya berkisar 7-8 tahun dan tidak lebih, tapi perjuangan anak kecil itu seperti perjuangan seoran pemuda yang berumar 27-28 tahun. Aku tidak tahu persis digunakan untuk apa keuntungan hasil penjualan koran itu. Tapi untuk apa pun itu, apakah sudah saatnya adik kecil itu diperas tenaganya untuk mencari uang setelah pulang sekolah?

Tidak hanya satu atau dua yang aku temukan hal seperti itu, tetapi sudah sangat sering sekali. Dan hal seperti itu kadang-kadang tidak membuat orang yang melihatnya iba karena seringnya melihat hal seperti itu. Padahal mereka melakukan itu dengan berbagai macam alasan. Ada yang katanya ingin menambah uang jajan, ada yang ingin membantu orang tua untuk meringankan biaya sekolah, dan tidak jarang pula mereka melakukan hal itu untuk sesuap nasi.

Sering aku bertanya pada diriku sendiri ataupun orang-orang di sekelilingku “kok bisa ya?” , “padahal kan udah 100 tahun kebangkitan nasional.” Banyak jawaban yang kudengar, tapi tidak ada jawaban yang menunjukkan, mengarahkan atau memberi jalan keluar.

Kita mungkin bisa saja pura-pura tidak melihat atau menutup mata kita akan perjuangan hidup mereka, kita mungkin bisa pura-pura tidak mendengar atau menutup telinga kita akan rintih tangis mereka, tapi apakah kita sanggup pura-pura tidak peduli atau menutup hati nurani kita?

Angkot Gratisan di Unpad


Hari ini kulalui hari seperti biasanya, pergi berangkat kuliah, ku mulai menyusuri jalan raya Jatinangor, masuk ke gang-gang kecil dan melewati rumah demi rumah yang tatanannya kurang rapi. Seperti biasa lagi, aku mulai menunggu  angkot gratisan yang memang dikhususkan untuk civitas Unpad. Tapi entah mengapa hari ini aku ingin menuliskan apa yang terlintas di fikiranku. Padahal sebenarnya hal tersebut sudah lama menetap di kepalaku dan berputar-putar di dalam.

Ku lihat pemandangan, yang sama dengan pemandangan hari sebelumnya di hari lain ketika menunggu angkot gratisan. Mahasiswa berebut satu angkot bagai semut yang berkerumun pada satu permen karet bekas yang terbuang di dekat halaman dapur rumah. Oke, itu merupakan pemandangan yang merupakan tak asing lagi bagiku dan sering kunikmati atau  mahasiswa lainnya yang sering menunggu angkot gratisan dan tak jarang pula aku menjadi bagian dari pemandangan itu. Bagaimana tidak, karena aku hanya seorang mahasiswa sederhana yang berasal dari keluarga sederhana pula. Namun, yang membedakan aku dari para mahasiswa yang ada di pemandangan tadi adalah bahwa aku seorang yang idealis, yang peduli akan kesejahteraan mahasiswa dan rakyat dan semoga selalu begitu.Aku tidak tahu dengan “teman-teman seperjuangan” di pemandangan tadi. Saking banyaknya nilai-nilai idealis yang berputar di kepalaku,  sampai-sampai aku tidak tahan untuk tidak menuangkan buah pikiranku menjadi sebuah tulisan, kalau ini masih bisa disebut tulisan bukan ketikan.

Aku sering berfikir mengapa pihak birokrat tidak mencari cara yang lebih efektif untuk mengoptimalkan angkot garatis di Unpad. Misalnya saja, angkot gratisan hanya lima buah untuk mengangkot puluhan ribu mahasiswa yang ada di Unpad, lalu waktu operasional  dari angkot itu tidak jelas.

Waktu operasional yang tidak jelas akan menyusahkan mahasiswa. Misalnya contoh dekat adalah aku sendiri. Pada hari kapan aku lupa tepatnya, aku naik angkot gratisan jam 2 siang. Tapi pada beberapa hari yang lalu, aku ingin naik angkot gratisan pukul 1 siang ternyata sudah tidak ada. KENAPA YA….??? Ko' jamnya tidak jelas seperti itu, seakan-akan jam operasional angkotnya sesuka si sopir angkot itu sendiri seolah-olah angkot itu adalah miliknya sendiri. Padahal angkot gratisan merupakan salah satu hak mahasiswa yang difasilitasi oleh pihak Unpad. Jadi pasti lebih baik jika waktu operasional angkot gratisan diperjelas dan diefektifkan, karena, mengapa jam 2 bahkan jam 12 ke bawah tidak ada angkot gratis, padahal jam kuliah mahasiswa masih ada sampai jam 5?

Di sini sepertinya ada ketimpangan, dan bila bila pun kebijakan yang memberlakukan peraturan seperti itu, seharusnya disosialisasikan kepada para mahasiswa, agar tidak terjadi miss communication di sini. Karena bagaimana pun juga,mahasiswa adalah pemeran utama di dalam kampus. Kampus bukanlah perusahaan jasa, tapi merupakan lembaga pendidikan yang menawarkan ilmu bagi para mahasiswa dan memfasilitasi mahasiswa. Namun, yang kita lihat, atau subjek yang memandang dipersempit, yang saya lihat, kita mahasiswa hanya dianggap sebagai para pengguna jasa yang membayar jasa tersebut, lalu mendapatkan jasa tersebut tanpa bisa menuntut apa-apa dari kejelasan biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa. Sebenarnya masih banyak lagi hak-hal yang timpang yang dapat kita lihat di dalam dunia kampus, khususnya bila menyangkut dana kemahasiswaan yang merupakan hak mahasiswa.

Thursday, May 22, 2008

Idealisme Mahasiswa


Apakah Idealis telah hilang…?

Atau mati…???

Hari ini ku dengar suatu kabar, yang mungkin dapat dikatakan menggembirakan tapi di satu sisi lainnya membuat hatiku sangat miris dan malu, ya sangat malu….

Kata si pembawa kabar ”temen-temen mulai nulis deh dari sekarang, karena katanya siapa yang nulis terus tulisannya dimuat di Koran Kompas akan dapat duit, kalo ga salah 500 ribu, gitu sih kata menteri Humas BEM Kema Unpad.”, ya mungkin kata-kata si pembawa berita tadi tidak persis seperti itu, tapi makna yang kita tangkap sama.

Mungkin di satu sisi, kita merasa senang karena tulisan kita dimuat di media cetak yang terkenal dan dibayar pula. Tapi jangan lupakan sisi lainnya juga. Ketika sebuah idealis merupakan barang langka pada zaman sekarang ini di kalangan mahasiswa, sampai-sampai media cetak pun berani membayar sebuah tulisan yang idealis. Tapi bagaimana jika ada seseorang atau pihak yang lain karena uang 500 ribu akhirnya menjadi penulis yang kritis, masihkah hal itu kita sebut sebagai sebuah idealis seorang mahasiswa? Benarkah tulisannya keluar dari hati dan hasil pemikirannya sendiri?

Kita mahasiswa merupakan Agent Of Change, Agen perubahan. Tapi apakah hal itu merupakan keadaan realita yang sebenarnya ketika kita melihat rakyat sengsara di luar sana tapi kita masih santai duduk di bangku kuliah???

Masikah kita dikatakan sebagai Agen pengubah bila kita hanya mau dan berani bersuara jika kita di bayar dengan uang 500 ribu rupiah?

LUCU!!! Benar-benar lucu, hanya karena tidak dibayar uang 500 ribukah, sehingga kita tidak mau menyumbangkan suara kita mahasiswa sebagai jembatan aspirasi dan suara tangis derita rakyat.

ANEH!!! Benar-benar aneh ketika kita malah bangga ketika suara kita diterbitkan di sebuah media cetak hanya untuk sejumlah uang 500 ribu rupiah.

KEJAM!!! Benar-benar kejam ketika karena uang 500 ribu kita tidak mau bersuara kawan, kita diam, bungkam seribu bahasa karena kita tidak dibayar 500 ribu.

Apakah itu yang disebut dengan IDEALISME SEORANG MAHASISWA, SEORANG AGENT OF CHANGE, SEORANG PEMBELA RAKYAT?!?!?!

Apakah KARENA UANG 500 ribu teman???

TANYA-KEN-APA