Saturday, May 9, 2009

Pengumuman, pengumuman, pengumuman



Hari ini merupakan hari besar. Tidak hanya hari besar bagi umat Buddha yang sekarang sedang marayakan hari raya waisak, tetapi hari ini merupakan hari penentu kemana arah bangsa ini akan dibawa. Karena hari ini adalah hari, seperti janji KPU, bahwa pengumuman hasil perhitungan suara pemilu legislatif april lalu. Namun, kita lihat juga sih nanti apakah KPU dapat memegang janjinya sesuai dengan kata-kata maereka bahwa optimis dapat melaksanakan tugasnya.

Namun, apa pun hasilnya, kita tetaplah harus optimis bahwa dengan pemilulah saat ini salah satu jalan terbaik dalam menentukan nahkoda kapal negeri ini. Walaupun sebenarnya banyak prokontra sana sini yang mengangkat isu-isu, pencerdasan-pencerdasan, sampai perdebatan-perdebatan dengan topik efektif tidaknya pemilu dalam menentukan pemimpin bangsa ini.

Banyak pihak yang mendukung pemilu kali ini, namun ternyata tidak sedikit juga yang menentangnya. Kalau dari pandanganku sendiri sih sebenarnya sangat mendukung pemilu kali ini, sepanjang hal itu benar-benar dilaksanakan dengan bersih. Bersih dari kecurangan, manipulasi dan sebagainya. Selama itu masih dilaksanakan, aku pasti, insya Allah tetap mendukung 100% jalannya pemilu kali ini. Namun, bila ada yang menyimpang dari bersihnya pemilu kali ini, maka sudah saatnyalah bagi mahasiswa untuk turun kejalan memperjuangkan suara hati rakyat.

Dari sisi orang-orang yang golput, aku kurang setuju pada mereka yang berpandangan seperti itu. Karena, di tilik dari sisi manapun golput tidak membuahkan keuntungan apa pun bagi kepentingan bangsa ini, justru kerugianlah yang menjamur. Sebenarnya mereka, para golput, tidak akan berhasil membuahkan pemimpin bangsa yang lebih baik dengan cara pandang mereka. Karena, tanpa mereka memilih pun, toh pemilu tetap berlangsung. Jadi sangat dissayangkan sekali sebenarnya bila mereka tidak memilih, karena satu suara pun sangat berharga. Satu suara dapat menjadi penentu siapa yang sebenarnya pantas memimpin negeri ini.

Seandainya pun banyak pihak yang mengkritik cara penentuan pemimpin bangsa ini, seyogyanya janganlah hanya mengkritik, tetapi alangkah bagusnya lagi, bila pihak-pihak tadi memberikan solusi yang nyata. Nyata dalam artian tidak asal ceplos saja. Cara yang dapat diterima mayoritas masyarakat Indonesia.

Janganlah kita berkoar-koar tanpa masyarakat tahu, sebenarnya apa sih yang sedang kita perjuangkan. Kita aksi, tuntut sana tuntut sini tanpa tahu sebenarnya apa yang kita tuntut, atau esensi yang kita tuntut itu. Dan jika pun kita sudah paham, akan lebih sempurna lagi bila banyak masyarakat awam dipahamkan juga sebenarnya apa yang kita tuntut.

Begitu juga soal pemilu. Banyak pihak yang berpendapat bahwa pemilu itu beginilah, begitulah bagaimanalah, pokoknya macam-macam kritikan. Namun, ketika akan ditanya balik lagi, cara apa yang lebih tepatnya untuk menetukan pemimpin bangsa ini, pasti belum ada jawaban. Seandainya pun ada solusi, solusinya biasanya mengusung kepentingan pribadi ataupun golongan, atau pun kalau tidak, banyak rakyat yang tidak paham bagaimana cara dari solusi yang di tawarkan tersebut. Makanya tadi, seperti ditulis diatas, saya kurang setuju dengan suatu perjuangan tanpa ada yang tahu apa yang sebenarnya kita perjuangkan itu.

Yah, apa pun kata para pengusung dan pecinta golput, toh buktinya pemilu tetap berlangsung tuh, malah udah hampir setengah jalan dalam penentuan arah bangsa ini. Apa pun itu,
 

HARAPAN ITU MASIH ADA


Friday, January 9, 2009

Pentingnya (Arsip) Dokumen dalam Organisasi



Mungkin banyak orang bertanya-tanya keheranan mengapa aku mengambil judul yang diatas, tapi tidak masalah karena hal ini akan kujelaskan pada kisahku kali ini.

Dua hari yang lalu aku mengikuti salah kegiatan yang dilaksanakan oleh BEM Universitas, SOL (School Of Leader). Kegiatan ini sudah berlangsung kurang lebih 2 bulan dan 2 hari lalu itu adalah penutupannya. Mungkin materi yang paling berkesan atau paling mengena atau hal baru yang kurasakan dalam acara tersebut (penutupan) adalah pada saat malam hari ketika pematerinya adalah kang Indra Kusumah (mantan ketua/presiden BEM Kema Unpad 2004-2005) dan kang Fajar (ketua BPM 2008-2009).

Sebenarnya mereka berdua tidak menyampaikan materi tetapi lebih ke sharing dan cerita kisah mereka selama menjabat sebagai pemimpin di jajarannya. Dalam sharing inilah aku mendapatkan sesuatu yang sangat terngiang didalam pikiranku sampai sekarang. Hal ini kudapat dari perkataan kang Indra, beliau berkata bahwa bila ingin sukses di organisasi kampus maka kita harus menguasai dokumen kampus, baik itu tingkat universitas, fakultas, atau pun jurusan. Dokumen yang dimaksud disini adalah segala macam perundang-undangan yang ada di kampus. Beliau berkata hal ini berlaku juga sampai ketingkat tatanan Negara. Pada saat itulah aku benar-benar merasa diriku sangat nol dalam organisasi, khususnya tempat yang sekarang sedang ku tempati yaitu BEM Fakultas.

Selama ini aku berorganisasi hanya didasarkan, mungkin bila dikatakan kasar adalah pada insting dan kemampuan dari pelatihan sana sini. Selama ini aku memegang jabatan di departemen kaderisasi, belum pernah sekali pun aku menguasai perundang-undangan yang mengatur bagian pengkaderan. Selama ini (2 tahun) aku bekerja karena menteri-menteri ku punya kemampuan akan bidangnya. Tapi aku juga tidak tahu apakah mereka juga bekerja berdasarkan perundang-undangan yang ada, aku tidak tahu. Selama ini cara pandang berfikir ku ternyata salah besar. Ku kira selama ini, hanya tugas orang-orang yang bergerak di bidang legislatiflah untuk menguasai perundang-undangan. Ternyata hal itu salah besar. Karena bila ingin berhasil di lembaga eksekutif pun maka kita harus menguasai perundang-undangan. Bila kita sudah paham akan aturan main maka akan semakin mudah untuk menggapai kemenangan dalam permainan itu. Dan organisasi bukanlah sebuah permainan, namun sebuah batu pijakan untuk memajukan bangsa ini. Dan bila ingin menapak batu yang tepat maka kita harus mengenal arah yang benar. Nah arah itu akan diberi beberapa tanda-tanda. Tanda-tanda itulah yang analog dengan aturan main dalam sebuah permainan.

Mungkin alasan mengapa lembaga eksekutif kurang mengoptimalkan perannya disebabkan karena orang-orang yang bergerak di lembaga tersebut ‘malas’ untuk mempelajari dokumen. Aku belum memiliki bukti yang valid terhadap hal ini (karena semua harus ada data yang jelas sebelum menyimpulkan sesuatu), maka aku hanya bisa berasumsi saja. Namun satu yang pasti, mulai dari sekarang aku ingin mempelajari dokumen. Mungkin penyebab kinerjaku yang kurang optimal sekarang pun disebabkan karena aku ‘buta’ akan dokumen.

Hmmmmmmmmmm