Monday, August 6, 2012

Hanya Sebuah simbol, benarkah???



Apa yang pertama kali muncul di benak kalian saat mendengar kata “PEMIMPIN”??? Kekuasaan, Jabatan, Pengatur, Manager, atau???

Yang pasti, dengan sangat yakin 90%, aku menebak pasti hal yang besar yang terlintas di fikiran kalian masing-masing bukan. Begitu juga aku, ketika mendengar kata pemimpin, hal yang pertama kali meluncur di benakku adalah sesosok orang yang memiliki kharisma serta kewibawaan sejalan dengan nama yang disandangnya, PEMIMPIN.

Dari ilmu pelatihan dan buku-buku yang kubaca saat masih menjadi mahasiswa dulu, pemimpin memiliki tipe yang beragam macamnya. Tergantung, dari teori siapa kita berkiblat. Dari berbagai teori tersebut jugalah kita akan menemukan pemimpin yang ideal menurut teori tersebut atau pun menurut diri kita sendiri, setidaknya akhirnya kita tahu dan bisa menentukan kriteria minimal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. 

Ok, kukatakan dengan jujur bahwa aku adalah termasuk salah satu orang yang sangat menuntut sebuah keidealan dari seorang pemmpin. Tapi, aku terkadang juga bisa menoleransi kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Toh, bagaimana pun juga pemimpin adalah seorang manusia, bukan sebuah pelecut kuda yang bisa melecut kuda sesuka pengemudi kuda dengan sempurna. 

Ada perasaan galau saat mengetahui bahwa yang menjadi pemimpinku sekarang diangkat menjadi pemimpinku. Yah, hal itu memang harus kuterima dengan pasrah, karena bagaimana pun juga di atas pemimpinku ada pemimpinnya pemimpinku, dan pemimpinku itu ditentukan oleh pemimpinnya pemimpinku tersebut. Ribet memang, rumit pasti, tapi begitulah hidup. 

Seiring berjalannya waktu, aku berusaha untuk menepiskan rasa galau ku itu ke sudut hatiku yang dalam, kalau boleh keluar total dari hatiku, andaikan bisa. Ternyata, perkiraanku benar, sangat sulit untuk mengeluarkannya dari hatiku. 

Selama ini aku tidak menepiskan kalau aku adalah bawahan yang kurang loyal. Salah memang tetap salah ….

Monday, July 30, 2012

After Long, long, loooong Time not writing anything here



Tak terasa satu tahun berlalu terakhir kali aku menulis dalam catatan idealisku ini. Banyak peristiwa, kenangan, pelajaran hidup, dan kisah hidupku berakhir tanpa dokumentasi. But, its okay, aku masih bersyukur, setidaknya sampai saat ini aku masih wanita yang memiliki prinsip hidup dan penuh mimpi, Alhamdulillah, say thanks to Allah, yang masih ngasih nikmat sehat dan islamNya untukku.

Terakhir kali aku menulis di catatan ini, aku berprofesi sebagai seorang TPD di sebuah perusahaan kecil, yang ternyata tiga bulan setelahnya aku harus move on dari profesi tersebut. Sebulan setelahnya juga, aku mencoba melawan arus hidup.Yah, layaknya seekor ikan yang melawan arus air, segitu jugalah kerepotan yang kuhadapi saat aku memutuskan hijrah ke Surabaya. Jakarta ternyata bukanlah kota yang bisa bersahabat erat denganku, kami cukup hanya saling tau satu sama lain saja, karena lebih banyak ketidakcocokan antara aku, prinsipku, dan mimpi-mimpiku bila disandingkan dengan kota Jakarta. 

Singkat cerita, meskipun tidak singkat sebenarnya, aku pindah ke Surabaya dengan modal pertemanan dengan seorang anak ITS, Helvin namanya, sorang pecatur perempuan yang tangguh asal tanah garam sana, Madura. Selain dengan modal itu, tentu saja dibutuhkan keberanian yang besar dan sedikit tabungan hasil tiga bulan aku bekerja di perusahaan kecil tadi yang akan menopang hidupku sampai aku mendapatkan profesi baru lagi. 

Banyak yang terjadi, seiring bergulirnya waktu, banyak orang yang sudah kutemui, banyak watak yang ku analisis dari setiap pribadinya, hingga saat ini. Aku sendiri masih belum percaya akhirnya aku terdampar pada profesi yang tak akan pernah aku izinkan melintas di benakku sekali pun saat aku masih mahasiswa dulu, di mana profesi itu juga sangat mulia, yaitu GURU.

Ya, pada akhirnya doa Bapakku terkabul juga, beliau dulunya menginginkanku menjadi seorang guru, yang berakhir dengan penolakanku mentah-mentah. Ternyata, benar, ridho orang tua adalah ridho nya Allah. Di sinilah aku sekarang, menjalani hari-hariku menjadi seorang guru. Profesi yang paling kuhindari dari saat aku mengenal kata cita-cita, profesi yang tak akan kuizinkan sedetik pun hinggap di mimpi-mimpi hidupku.


Allah selalu memiliki rencana indah untuk hambaNya, prinsip itulah, yang syukurnya, masih aku pegang sampai saat ini. Indah memang kata-katanya, tapi jauh lebih indah saat aku bisa memaknainya setelah melalui beribu bahkan berjuta kesulitan saat menjalani hari-hariku di sini, di sekolah ini, di tempat calon-calon pemimpin dunia meniti anak tangga bawah mimpi-mimpi mereka.

Permen nano-nano hidupku yang baru mulai masuk ke dalam mulut-mulut kehidupanku, dan lidah-lidah kehidupanku mulai menyesuaikan diri dengan kejutan-kejutan rasanya. Sering rasa itu menyenangkan saat rasa manis mengalir ke lidah kehidupanku, namun tak jarang pula rasa pedas dan asam, bahkan asin, sangat asin menghantam ujung-ujung lidah kehidupanku saat lidah kehidupanku belum siap. 

Yup, hidupku sekarang lebih bergelombang, tapi di sanalah justru seni keindahan menikmati hidup. Tak jarang air mataku mengalir deras, hatiku bagai diiris sembilu, dan ledakan-ledakan emosiku harus kutahan, agar aku bisa menjadi manusia yang menjadi jauh berkualitas dibanding waktu-waktu lampau. Hanya ucapan “Bismillah” yang kuucapkan saat melewati semuanya serta penepisan fikiran-fikiran negatif terhadap Sang Khalik, agar aku senantiasa tawadhu menghadapi rahasia-rahasia lain kehidupan yang telah dipersiapkan olehNya. Lain waktu, akan kutuliskan cerita-cerita para pemompa semangatku di tempat ini, merekalah pemicu kerja kerasku, para Pemimpin dunia yang masih hijau dan haus akan ilmu serta nilai-nilai kehidupan. Merekalah siswaku, anak-nakaku, sahabatku dan sumber semangat mengajarku…. Merekalah para Muhammad kecil…


Friday, August 26, 2011

The New Page of My Life



Ya, judulnya menggambarkan bahwa aku bukanlah bagian kehidupan kampus lagi. Alhamdulillah tidak genap sebulan setelah sidang, aku diterima bekerja di PT Induksarana Kemasindo (ISKI) di daerah Jakarta Barat. Gajinya tidak begitu besar, namun masih cukup untukku seorang dan terbilang lumayan untuk fresh graduate seperti aku. Dan yang paling penting adalah, aku bisa hidup mandiri. Walau pun aku belum bisa membantu banyak untuk kehidupan orangtuaku, minimal aku tidak akan menyusahkan dan merepotkan mereka lagi. 

Hari pertama saat memasuki dunia kerja, banyak hal yang harus ku pelajari, banyak sisi yang harus ku perhatikan, dan paling tentu, banyak karakter yang harus ku kenal. Dari big boss, sampai office boy.

Hari pertama bekerja, aku dikenalkan pada banyak sekali karyawan, yang membuat memori di kepalaku harus bekerja keras untuk mengingat tiap wajah dan nama. Yang pada akhirnya membuat aku menyerah dengan usaha ku yang terbilang cukup keras untuk melakukan kedua hal tersebut dalam waktu bersamaan dalam waktu yang singkat. Selain diperkenalkan pada lingkunga kerja, aku diperkenalkan dengan tugas yang akan ku jalani selama bekerja di ISKI. Saat di kenalkan pada tugasku, sungguh gelar yang ku punya tidak memiliki peran yang cukup besar dalam hal itu. Aku merasa seperti anak TK yang masih buta huruf diajari untuk membaca sebuah novel, how can be?!?!?! Hari pertama aku belum bisa memutuskan apakah aku akan menyukai pekerjaanku atau malah membencinya.

Hari kedua bekerja, aku sudah mulai bisa akrab dengan rekan-rekan seruanganku, walau pun aku merasa sangat asing dan tidak enak, karena orang yang aku gantikan posisinya masih ada disana, untuk handover denganku. Yah, posisiku terbilang agak sulit. Memang orang itu keluar dari perusahaan atas keinginannya sendiri, dan bila dia tidak keluar maka aku tidak akan mendapatkan pekerjaan ini, tapi… posisi yang kuhadapi sangatlah tidak enak. Inginnya siyh, dia sudah tidak ada saat aku masuk, tapi kalau dia keluar maka aku belajar sama siapa dong??? Aku juga sampai saat ini belum bisa memutuskan apakah aku menyukai atau tidak menyukainya… karena, saat dia disana aku merasa tiba-tiba berubah menjadi invisible woman (tidak man, karena aku kan perempuan).

Namun, dihari kedua aku dilibatkan dalam acara komunitas di bagian aku bekerja, yang membuat aku tampak ada dan terlihat lagi… kesimpulan yang bisa kutarik dari hari pertama dan hari kedua, sungguh pengalaman organisasi dikampus belum cukup membantu aku bersosialisasi dalam lingkungan kerja… bukan berarti organisasi kampus yang salah, tapi memang aku masih memiliki pengalaman yang sangat sangat sangat kurang sekali… yah, hidup memang adalah sekolah yang paling nyata dan berharga…

Hari ketiga, hari terakhir bekerja dan hari terakhir aku bertemu dan ditraining oleh orang yang akan kugantikan. Disini aku sudah mulai paham akan tugasku, tidak seabu-abu hari pertama lagi. Sudah dapat kubedakan antara hitam dan putih dari pekerjaanku, walau pun masih ada yang terlihat abu-abu. Hari itu jugalah hari yang terberat dari hari ketiga tadi. Mengapa??? Pertama, aku memberikan kesan yang kurang bagus terhadap big boss, yang pada akhirnya si big boss menyuruh atasanku agar aku mengganti rokku dengan celana. Alasannya, terlalu beresiko kalau aku memakai rok di lapangan. I said in my mind “what?!?!?!, ganti costum?!?!?! No no no. It’s impossible to be done!!!”. Aku nggak mungkin melakukannya, yang artinya aku menjual aqidahku, Masya Allah… jangan sampai… aku tidak tahu apakah itu hanya akal-akalan si big boss saja agar aku keluar dari perusahaan secepat mungkin atau memang benar-benar resiko yang besar saat aku memakai rok di lapangan… Aku hanya berharap, atasanku akan lupa atas permintaannnya dan si big boss juga lupa kesan buruk yang ku timbulkan pada saat pertama kali ia melihatku dan aku bisa menunjukkan bahwa rokku tidak akan menutupi kecerdasan otak yang diberi Allah padaku. Intinya, penampilan islamiku tidak akan menghambat pekerjaanku. Apakah masih banyak yang memandang bahwa muslimah tidak bisa bekerja sama efektifnya dengan wanita-wanita rok pendek diluar sana, let me prove it, that we can do that better!!! Ya Allah, jagalah hamba dalam mencari rezeki yang halal, dan bila ini bukan jalan untuk mendapatkan rezeki yang layak untuk hamba, maka bukakanlah dan mudahkanlah jalan yang lain untuk hamba.

Permintaan atasanku sudah membuat aku sedikit down, dan sangat menambah berat kulit di wajahku, sehingga sangat sulit bagiku untuk memberikan senyum tulus dan berbinar-binar pada orang lain yang menjadi lawan bicaraku. I was so shocked!!! I was so confused!!! Gimana nggak, waktu hari pertama wawancara sampai hari kedua aku bekerja, penampilanku bukanlah problem, but why now??? Kenapa harus setelah hari ketiga??? Kalau dari hari pertama aku ditolak, I would understand it… yah, Rahasia Allah always better, I know it.

Setelah banyak perasaan dan fikiran berkecamuk di kepala dan di dadaku, ternyata bagian terberat belum juga cukup memenuhi hari terakhir kerjaku di bulan ini. Saatnya perpisahan dengan orang yang akan kugantikan. Ok, namanya mba Yanti. Tidak nyama juga rasanya kalau aku memanggil dia terus menerus dengan “orang yang akan kugantikan”. Toh dia punya nama, dan aku tidak membenci dia. Hanya saja, yah, aku tidak tahu harus berperasaan seperti apa terhadap beliau. Yang pasti, saat rekan-rekan lain mengucapkan salam perpisahan dengannya, aku merasa berada di tempat yang sungguh sangat sangat sangat tidak seharusnya aku tempati. Aku merasa ingin pergi atau menghilang sesaat, yang keduanya tidak mungkin aku lakukan. Because, I was still there, watched them!!! Sungguh perasaan yang tidak nyaman. Seperti berada di pemakaman dengan pakaian badut, sungguh tidak pantas kan?!?!?! Yah, selamat Putri Lestari Hemawati, kamu dapat  jackpot bom jantung dalam satu hari!!!

Yah, terlepas dari semua itu, aku masih bersyukur atas semua yang Allah beri padaku… aku yakin, Allah tidak akan menguji hambaNya melebihi kapasitas keimanan dan kekuatan hati dan jiwa yang dimiliki hambaNya tersebut… but, I just need time to accept everything. Dan semoga aku bisa cepat menerima semua ini. Mudah-mudahan liburan dan akhir bulan suci ini bisa membawa berkah untukku… amin ya Allah…

Mudah-mudahan ini episode hidup yang penuh hikmah

Friday, December 24, 2010

Mengubah Nasib, How Can ?!?! Absolutely, Can be !!!



Hmmm, judulnya, semua orang pasti tahu itulah jawabannya (tidak harus cerdas untuk mengomentarinya). Ya bagaimana bisa?!?! Tentu saja bisa!!! 

Kuncinya adalah ikhtiar, usaha, tawakkal, dan ikhlas. Teorinya sih sangat mudah, prakteknya, beuhhhh gampang-gampang susah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Beberapa minggu yang lalu, sekitar dua minggu mungkin, aku ketemu seorang pedagang asongan di bus Damri. Ketemu pedagang asongan di damri bukan merupakan hal yang istimewa menurutku, dan mungkin juga menurut kebanyakan orang. Tapi, untuk pedagang yang satu ini, ada yang spesial di mataku. Pedagang asongan ini adalah seorang bapak yang umurnya mungkin akhir 30-an. Dia berdagang tissue, permen, atau camilan sejenisnya. Tidak ada yang aneh dengan penampilan bapak ini, sangat wajar, layaknya tampilan seorang bapak-bapak yang biasa saja, dan layaknya seorang pedagang asongan, berusaha menjajakan dagangannya pada setiap penumpang bus sebelum bus itu berangkat.

Tapi, eits, tunggu dulu... aku kenal dengan bapak itu, bukan kenal dalam arti kita pernah kenalan atau pernah bertegur sapa lalu menjadi sahabat, bukan bukan seperti itu. Tapi, sebelumnya aku sering melihat bapak itu, di tempat yang sama, bus Damri, tapi profesi yang berbeda. Ya, benar, aku yakin, profesinya berbeda dan aku yakin banget, bahwa bapak itu adalah bapak yang sama. 

Ya, sekitar tiga minggu sebelumnya (lima minggu yang lalu terhitung dari sekarang), bapak tersebut masih berprofesi sebagai peminta sumbangan untuk pembangunan masjid disuatu daerah yang aku tahu, tapi belum pernah ke daerah tersebut. Bapak tersebut aku kenal, karena seringnya aku naik bus dan seringnya aku melihat bapak tersebut. Dengan pidatonya yang sama, dan teknik yang sama, serta kotak amal yang sama, dia meminta sumbangan dari para penumpang untuk pembangunan masjid di daerah yang tak pernah ku kunjungi tersebut. Yah, ada sekitar sepuluh kali lah aku ketemu dengan bapak tersebut, dan hampir 50% dari pertemuan itu aku memberikan sumbangan pada bapak itu. Bukan bermaksud pamer, tapi hanya sekedar ingin membuat hitungan kalau sekiranya si bapak tersebut sudah sekitar tiga bulan di bus damri tersebut, dan mendapatkan minimal sumbangan dari lima orang penumpang dari setiap bis yang akan berangkat, dan minimal sumbangan tersebut berjumlah sama dengan uang yang aku sumbangkan, kira-kira berapakah yang didapatkan oleh bapak tersebut???

Oke, tidak perlu memusingkan berapa jumlah yang didapatkan si bapak tersebut, dan apakah uang yang kita beri benar-benar dibuat untuk pembangunan masjid atau tidak. Lupakan hal tersebut untuk sejenak. Karena yang ingin aku ambil titik pointnya disini adalah, si bapak itu sekarang beralih profesi. 

Ya, BERALIH PROFESI, menjadi seorang pedagang asongan. Apa istimewanya bila ia beralih profesi? Sangat istimewa menurutku. Kok bisa? Karena itu artinya dia tidak membutuhkan belas kasihan orang lain lagi untuk mendapatkan uang. Terlepas dari uang yang dia gunakan mungkin berasal dari sebagian hasil memungut sumbangan dari para penumpang bis, atau 100% modalnya memang berasal dari itu. Terlepas dari itu semua, setidaknya si bapak tersebut punya keinginan untuk merubah taraf hidupnya dengan cara yang lebih baik dan bermartabat. Menjadi pedagang asongan bukanlah suatu pekerjaan yang hina atau haram. 

Wallahualam bishowab dengan kejelasan halal atau tidaknya penghasilan si bapak tersebut, tapi yang pasti aku memberikan aplaus untuk bapak tersebut, dengan keinginannya untuk merubah taraf hidupnya. Setidaknya, bapak ini tidak berhenti pada satu titik, menjadi seorang peminta sumbangan, yag mengharapkan belas kasihan orang lain. Artinya bapak tersebut ingin mengubah nasib dengan ikhtiarnya.

Jadi ingat film “Alangkah lucunya negri ini”, yang menggambarkan wajah negri ini. Dimana, di film tersebut menceritakan kisah para pencopet yang berusaha mengubah jalan hidupnya, tapi tetap modalnya dari hasil mencopet. Disitu sih katanya itu duit haram, tapi hanya Allah yang tahu apakah hasil akhirnya ketika mereka berhasil berubah, halal atau tidaknya uang tersebut. Apakah bisa dikatakan mereka bertaubat??? Wallahualam bishowab. Hanya Allah yang tahu dan berhak memberikan penilaian.

Bagaimana pun, semua orang punya hak dan kesempatan untuk memilih dan mengubah jalan hidupnya. Because Life is a Choice...

Tapi, untuk baiknya, maka lebih baik sumber, proses dan hasil yang kita lakukan adalah berasal dari kebaikan sehingga bisa mencapai ridho Allah.

Sunday, December 12, 2010

Dimanakah diriku ???



Sudah sangat lama tidak menuliskan ide-ide yang terlintas di kepalaku. Aku merindukan saat-saat aku masih aktif di organisasi kampus dulu. Banyak kejadian dan peristiwa yang terukir di sejarah peradaban manusia belakangan ini. Banyak perubahan yang terjadi dengan dunia. Bagaimana dengan kalian??? Dan bagaimana dengan diriku???

Judul tulisanku sangat miris ya, bila dibaca oleh rekan-rekan junior di kampus, bahkan mungkin kalian juga tertawa membaca judul dari tulisanku. Jujur, tapi itulah yang kurasakan saat ini…. Sedikit kosong, hampa, dan jauh dari sosok seorang mahasiswa yang berjuang mengatasnamakan Rakyat Indonesia.

Banyak aktifitas yang terasa menjemukan saat ini. Apakah, karena aku yang memilih jalur tersebut??? Hhhhh entahlah ….

Is Everything stop in the unsaturated moment??? I don’t know…

Aku merindukan teman, rekan-rekan, saudara-saudara seperjuangan dulu ketika masih aktif di organisasi kampus. Namun, waktu terus berjalan, kenangan tidak dapat diputar kembali, moment-moment yang indah tidak dapat diulang dengan keindahan yang sama, dan aku, dia, mereka, kalian semua bertambah tua …. Time must go on ….

Saat ini aku sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhirku, sebagai syarat aku berhak mendapatkan gelar “S.Si.” di akhir namaku. Yah, mungkin karena itulah, akhirnya sekarang aku sangat ketinggalan berita-berita yang ter up-date di kampus (Jatinangor), sebab penelitianku di Bandung.

Targetanku, aku ingin wisuda di bulan Februari mendatang, tapi Allah berkehendak lain, jadi wisudaku terunda. Namun, aku berharap dan berusaha agar semua pekerjaanku yang berkaitan dengan penelitianku selesai di akhir Januari mendatang.

Allah ternyata masih mengujiku, aku masih harus dengan sabar menyaksikan teman-temanku yang lain diwisuda dan menyandang gelar sarjana di akhir nama mereka. Ternyata aku belum lulus ujian itu ya Rabb ….


Semakin bingung dari hari kehari, semakin hampa, semakin kosong ….


Dimanakah diriku???

Friday, April 9, 2010

Maaf, Kesabaran, dan Ucapan Terima Kasih



Sudah lama sekali tidak menuliskan ide-ide, pikiran-pikiran, pandangan-pandangan, opini-opini, or whateverlah yang ada in my mind… Yah, hampir setahun lamanya banyak hal yang ingin kutuangkan sebenarnya ke dalam bentuk tulisan, tapi apalah daya, karena sibuk dengan ketidaksibukan, akhirnya pikiran dan ide-ide yang terlintas di kepala, menguap begitu saja, kadang dengan jejak, kadang tanpa jejak sama sekali, wuisss... seperti halnya hembusan angin. 

Sekarang aku sudah tidak aktif lagi dalam Lembaga Kegiatan Mahasiswa. Yah, mungkin ini salah satu pengaruh mengapa sudah tidak pernah lagi meyempatkan sedikit waktuku untuk menuliskan ide-ide atau pikiran-pikiran yang sempat singgah dikepalaku,  yang punya  daya tampung yang terbatas ini. Sebenarnya rindu akan kesibukan terdahulu, tapi aku tahu dan sadar, waktu akan terus berputar, dan regenerasi zaman adalah suatu keniscayaan yang pasti terjadi. 

Jadi karena sudah tidak begitu aktif di lembaga kegiatan mahasiswa, yah mungkin lintasan-lintasan yang ada di kepalaku saat ini lebih fokus pada makna hidup, alur hidup, atau segala sesuatu yang berkaitan tentang hidup, tidak hanya seputar idealisme seorang aktivis mahasiswa saja, tapi aku dengan sangat sadar menuangkan segala yang terlintas dikepalaku sebagai seorang manusia.

Hal pertama yang kuangkat adalah tentang kat “MAAF”. Kita pasti sering mendengar atau mengucapkan kata ini. MAAF bukanlah kata yang asing di telinga kita. MAAF sangat familiar, baik di telinga atau di lidah kita. Tapi apakah dia mudah meluncur dari bibir kita atau ringan terdengar di telinga kita, diikuti dengan hati yang lapang??? Wallahua’alam bishowab. Kadang-kadang kesombongan kita, keegoisan kita, ego manusia kita sangat besar untuk mampu mengucapkan kata-kata tersebut di lidah kita. Atau keangkuhan diri kita, kekejaman fikiran kita atau keserakahan kita membuat telinga kita tidak tahan untuk mendengar kata MAAF. Meminta maaf memang sangatlah berat. Aku sangat salut pada seseorang yang dengan rasa kerendahan hatinya, bukan berarti dia menjatuhkan harga dirinya, untuk meminta maaf. Meminta maaf bukanlah berarti menjatuhkan harga diri kita, bukan berarti menggerogoti habis jiwa kita, bukan berarti menurunkan derajat kemuliaan kita sebagai mahluk tertinggi di hadapan Allah, bukan berarti mengurangi kehebatan-kehebatan yang kita miliki. Berani meminta maaf adalah salah satu cara menunjukkan rasa penyesalan dari kesalahan yang telah kita perbuat, maaf berarti membuat jiwa kita semakin besar dan mampu lebih lapang untuk menerima kesalahan kita, maaf menunjukkan penghargaan kepada seseorang yang telah dengan berani menegur kesalahan kita. Karena, ketika seseorang masih mau menegur kita karena kesalahan kita, maka itu adalah salah satu bentuk perhatian orang tersebut pada kita. Tapi ada yang membuatku lebih salut dibanding meminta maaf dengan berani, sadar, dan hati yang lapang. Yaitu memberi maaf dengan senyuman, sadar, dan hati yang lapang. Meminta maaf, kadang-kadang terlihat sangat sulit untuk dilakukan, karena seolah-olah mengikis sebagian harga diri kita. Namun, ternyata ada yang lebih sulit lagi dilakukan, yaitu memaafkan. Memaafkan kadang-kadang jauh lebih sulit dilakukan, apa lagi ketika kesalahan yang diperbuat oleh orang lain sangat menyakiti hati kita atau berdampak sangat dalam pada kehidupan kita. Bahkan, kadang-kadang kesalahan kecil pun sangat sulit untuk kita maafkan. Namun memaafkan sangatlah mengajarkan hal penting dalam hidup. Ketika kita berani memaafan, maka kita sudah merintis hidup kita menjadi seorang yang berjiwa besar, berlapang dada, belajar menjadi seorang pemurah, dan yang paling penting adalah kita lebih bisa belajar ikhlas.

Seperti kata-kata yang sangat aku suka, yang berkaitan dengan  ilmu yang kudalami saat ini, kimia, dari sebuah novel MAMIMOMA,


“Asam klorida biasanya lebih memiliki efek merusak pada wadah tempat ia disimpan daripada objek ia dituang. Seperti itulah efek kebencian pada hati, kebencian hanya akan lebih menyakiti dan merusak hati kita dari pada orang yang kita benci….”.

Hal kedua yang tidak kalah pentingnya yang menguji keikhlasan kita dalah kesabaran. Ya SABAR. Kata sabar juga sudah tak asing ditelinga kita. Namun kadang-kadang sungguh sangat sulit untuk dilakukan. Kadang-kadang karena ego kita, kita melalaikan rasa sabar tersebut, hanya untuk menunjukkan keangkuhan kita. Seperti Riwayat seorang sahabat Rasulullah,


Taubat itu wajib bagi seseorang, tapi lebih wajib lagi baginya untuk meninggalkan dosa. Perjalanan waktu itu sangat mengherankan, tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu. SABAR ITU SULIT, TAPI HILANGNYA KESABARAN ITU LEBIH SULIT AKIBATNYA. Semua yang bisa dicapai itu dekat, tapi kematian itu lebih dekat dari semuanya (Ali Bin Abi Thalib).

Terima kasih…. Ternyata bukan hanya kata MAAF yang kadang-kadang kelu diucapkan oleh lidah kita. Kadang-kadang ketika mengungkapkan rasa terimakasih kita pada seseorang sangat sulit dilakukan. Padahal, terimakasih merupakan ungkapan yang singkat yang memilki dampak yang saaaangatttttt besar. Beberapa hari belakang, atau mungkin sebulan kebelakang ini, aku diajarkan oleh sesorang, yang dengan sangat mudahnya mengucapkan terima kasih. Kata ini sangat kecil dan singkat, namun memberikan efek yang sangat besar bagi orang yang mendengarkan, apa lagi pada orang yang di tuju. Mungkin aku juga harus belajar membiasakan mengucapkan kata-kata tersebut tulus dari hatiku. Banyak hal yang harus patut aku syukuri. Artinya aku juga harus sering-sering berterima kasih kepada sang Khalik, yang telah memberikan orang-orang yang telah hadir di dalam hidupku.


TERIMA KASIH YA ALLAH,,,,

Saturday, May 9, 2009

Pengumuman, pengumuman, pengumuman



Hari ini merupakan hari besar. Tidak hanya hari besar bagi umat Buddha yang sekarang sedang marayakan hari raya waisak, tetapi hari ini merupakan hari penentu kemana arah bangsa ini akan dibawa. Karena hari ini adalah hari, seperti janji KPU, bahwa pengumuman hasil perhitungan suara pemilu legislatif april lalu. Namun, kita lihat juga sih nanti apakah KPU dapat memegang janjinya sesuai dengan kata-kata maereka bahwa optimis dapat melaksanakan tugasnya.

Namun, apa pun hasilnya, kita tetaplah harus optimis bahwa dengan pemilulah saat ini salah satu jalan terbaik dalam menentukan nahkoda kapal negeri ini. Walaupun sebenarnya banyak prokontra sana sini yang mengangkat isu-isu, pencerdasan-pencerdasan, sampai perdebatan-perdebatan dengan topik efektif tidaknya pemilu dalam menentukan pemimpin bangsa ini.

Banyak pihak yang mendukung pemilu kali ini, namun ternyata tidak sedikit juga yang menentangnya. Kalau dari pandanganku sendiri sih sebenarnya sangat mendukung pemilu kali ini, sepanjang hal itu benar-benar dilaksanakan dengan bersih. Bersih dari kecurangan, manipulasi dan sebagainya. Selama itu masih dilaksanakan, aku pasti, insya Allah tetap mendukung 100% jalannya pemilu kali ini. Namun, bila ada yang menyimpang dari bersihnya pemilu kali ini, maka sudah saatnyalah bagi mahasiswa untuk turun kejalan memperjuangkan suara hati rakyat.

Dari sisi orang-orang yang golput, aku kurang setuju pada mereka yang berpandangan seperti itu. Karena, di tilik dari sisi manapun golput tidak membuahkan keuntungan apa pun bagi kepentingan bangsa ini, justru kerugianlah yang menjamur. Sebenarnya mereka, para golput, tidak akan berhasil membuahkan pemimpin bangsa yang lebih baik dengan cara pandang mereka. Karena, tanpa mereka memilih pun, toh pemilu tetap berlangsung. Jadi sangat dissayangkan sekali sebenarnya bila mereka tidak memilih, karena satu suara pun sangat berharga. Satu suara dapat menjadi penentu siapa yang sebenarnya pantas memimpin negeri ini.

Seandainya pun banyak pihak yang mengkritik cara penentuan pemimpin bangsa ini, seyogyanya janganlah hanya mengkritik, tetapi alangkah bagusnya lagi, bila pihak-pihak tadi memberikan solusi yang nyata. Nyata dalam artian tidak asal ceplos saja. Cara yang dapat diterima mayoritas masyarakat Indonesia.

Janganlah kita berkoar-koar tanpa masyarakat tahu, sebenarnya apa sih yang sedang kita perjuangkan. Kita aksi, tuntut sana tuntut sini tanpa tahu sebenarnya apa yang kita tuntut, atau esensi yang kita tuntut itu. Dan jika pun kita sudah paham, akan lebih sempurna lagi bila banyak masyarakat awam dipahamkan juga sebenarnya apa yang kita tuntut.

Begitu juga soal pemilu. Banyak pihak yang berpendapat bahwa pemilu itu beginilah, begitulah bagaimanalah, pokoknya macam-macam kritikan. Namun, ketika akan ditanya balik lagi, cara apa yang lebih tepatnya untuk menetukan pemimpin bangsa ini, pasti belum ada jawaban. Seandainya pun ada solusi, solusinya biasanya mengusung kepentingan pribadi ataupun golongan, atau pun kalau tidak, banyak rakyat yang tidak paham bagaimana cara dari solusi yang di tawarkan tersebut. Makanya tadi, seperti ditulis diatas, saya kurang setuju dengan suatu perjuangan tanpa ada yang tahu apa yang sebenarnya kita perjuangkan itu.

Yah, apa pun kata para pengusung dan pecinta golput, toh buktinya pemilu tetap berlangsung tuh, malah udah hampir setengah jalan dalam penentuan arah bangsa ini. Apa pun itu,
 

HARAPAN ITU MASIH ADA