Saturday, April 6, 2013

UKHUWAH



14 Desember 2012

Konsep persaudaraan yang diperkenalkan oleh ajaran Islam sangatalah indah. Di dalam konsep tersebut semua orang muslim di dunia ini adalah saudara, terlepas dia terlahir dari golongan kaya atau miskin, terlepas dari jabatan, keturuna, suku, ras, kemampuan, atau segala hal yang berkaitan dengan keduniawian. Selama ia masih mengaku menjadi orang islam (beragama islam) maka orang tersebut adalah saudara orang islam lainnya.

Sesama muslim adalah satu tubuh. Analogi ini jugalah yang dibawa oleh ajaran islam dalam menyebarkan indahnya persaudaraan islam. Bila muslim yang satu merasa kesulitan, maka sudah seyogyanya bila muslim yang lain untuk membantu meringankan beban tersebut, atau minimal tidak menambah kesulitan tersebut atau malah mempersulit kemudahan masalah tersebut. Layaknya tangan kanan kita yang terluka, maka pada kondisi tersebut tangan kiri kita akan mengambil alih pekerjan tangan kanan tersebut, atau bagia tubuh yang lain akan memposisikan dirinya masing-masing untuk membuat keadaan yang lebih nyaman pada tangan kanan yang terluka tersebut, atau setidaknya akan menghindari daerah-daerah yang akan membuat tangan kanan tersebut bertambah parah rasa sakitnya. Begitulah analogi yang diajarkan oleh islam tentag sebuah konsep persaudaraan.

Konsep persaudaraan islam yang seperti inilah yang dulu membuat aku tertarik untuk mengenal islam lebih jauh dan lebih dalam. Semua muslim itu saudara, konsep persaudaraan dalam islam yang pertama kali ku dengar saat aku berada di bangku SMA. Kata-kata tersebut tercetus dari seorang laki-laki yang aku kagumi. Bukan rasa kagum seorang perempuan pada laki-laki, tapi rasa kagum dari seorang murid pada gurunya.

Rasulullah telah membawa dan mengenalkan konsep ini ratusan tahun yang lalu, telah menyebarkan indahnya konsep ukhuwah islamiyah ke segala penjuru. Namun, dari laki-laki tadilah aku mengenal konsep yang disebarkan oleh rasulullah. Aku bersyukur Allah mempertemukan kami sebagai guru dan murid.

Ketika di bangku SMA, untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan indahnya ukhuwah. Bagaimana senior-seniorku membantuku dengan sumbangan-sumbangan baju dan kerudung mereka saat aku memutuskan untuk menutup auratku. Bagaimana semangat, dukungan, motivasi dan doa dari mereka yang kudapatkan ketika aku melewati berbagai cobaan, rintangan, dan penentangan pada awal hari-hari aku menjalani diriku menjadi seorang muslimah dengan penutup aurat yang rapat. Hingga pada akhirnya aku punya kekuatan dan tekad sendiri yang kokoh untuk terus memperjuangkan niatku dalam menutup aurat. Aku berniat takkan melepas kerudungku sampai kapan pun di depan orang-orang yang tak berhak untuk melihat auratku. Islam semakin indah bagiku. Kerudung bagiku bukanlah suatu belenggu, sebaliknya, malah kuanggap sebagai pelindung dan simbol kebebasanku. Aku yang memilih siapa-siapa saja yang berhak melihat auratku. Cara pandangku, semuanya bermula dari sebuah konsep ukhuwah. Semua muslim itu bersaudara, aku tahu dan yakin pada saaat itu dan sampai sekarang pun, aku tidak sendiri, tidak pernah sendiri. Aku selalu punya saudara, saudara seiman.

Konsep ukhuwah yang indah juga kurasakan pada saat aku menjadi penghuni salah satu kampus di kota kembang sana. Pada hari pertama aku menginjakkan kakiku di kota pelajar itu, hatiku membuncah oleh rasa haru dan bahagia. Bukan karena akhirnya aku berhasil sampai ke kota tersebut, tapi lebih pada sekelilingku. Kepala-kepala yang ditutup kerudung, bertabur dimana-mana, sangat kontras dengan daerah asalku dulu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, sebagian sisi hatiku berdenyut perih dan sakit ketika konsep ukhuwah yang kukenal tak seindah yang diceritakan oleh guru dan saudara-saudaraku di Kabanjahe sana. Bukan karena terlalu sering menjalaninya sehingga menjadi biasa rasanya, bukan karena itu. Karena pada akhirnya, di kota kembang sana, wanita-wanita yang bertaburan kerudung tadi tidak seperti aku dan saudara-saudaraku saat di SMA dulu. Berkerudung di kota kembang sana bukan berarti harus menutup aurat hati dan fikiramu. Tidak harus berarti itu. Sungguh bila kuingat lagi sekarang cara berfikirku yang lalu, aku mungkin akan menertawakan kesederhanaan, kebodohan dan kenaifan cara berfikirku.

Namun, kesedihan hatiku tak berlagsung lama. Ibarat pengembara yang kehausan di padang pasir, menemukan oase yang sangat indah dengan limpahan air yang bening dan sejuk, begitu jugalah yang kurasakan saat benar-benar menjejakkan kakiku di kampus Padjadjaran sana. Aku dipertemukan kembali dengan konsep ukhuwah yang kurindukan dulu, konsep yang mengatakan bahwa muslim itu satu tubuh. Konsep ini tidak hanya kutemukan dan kurasakan di kampus. Allah sangat baik, sehingga aku juga bisa merasaka ukhuwah saat aku memilih tempat tinggal (baca: kos-kosan). Indah, sangat indah saat-saat aku memiliki saudara-saudara untuk berbagi. Berbagi cerita senang, duka, mimpi, sejarah, ambisi-ambisi, ketakutan-ketakutan, perbedaan pendapat, pandangan-pandangan. Semuanya indah, sangat indah. Saat aku sakit, aku sangat ingat seorang saudaraku membantuku mengerjakan laporan praktikumku saat aku jatuh sakit, padahal dia bukan jurusan kimia. Saat aku butuh kendaraan dikala ekonomi keluargaku memburuk, saudaraku meminjamkan motornya padaku untuk waktu yang lumayan panjang, dan masih banyak lagi kenangan-kenangan indah tentang ukhuwah islamiyah yang kualami dan kurasakan selama 5 tahun di Jatinangor, tempat Padjadjaran berdiri kokoh.

Sampai aku melepaskan statusku sebagai mahasiswa, dan berdiri di aula Padjadjaran didampingi kedua orangtuaku dan nenekku, ingatan akan ikatan ukhuwah itu masih terpatri kuat di pohon-pohon memoriku. Dimana salam, sapa, dan senyum mereka begitu bertebaran di tiap-tiap hariku selama 5 tahun aku mengukir ilmu di Padjadjaran sana. Semuanya begitu terasa biasa karena begitu sering hal itu aku dapati.

Hal-hal semacam itu, senyum, salam, dan sapa tadi mulai terasa indah saat wajah-wajah teduh dengan kerudung panjangnya yang anggun tidak lagi kutemukan di daerah tempat aku bekerja (Jakarta). Aku mulai merindukan sapaan-sapaan yang islami, sapaan-sapaan yang tulus, yang dengan sadar dilakukan oleh mereka semua karena Ridho Allah semata, buka mengharapkan imbalan dari orang yang disapa.  Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa lingkungan tempat aku bekerja sungguh kering dari kata-kata “UKHUWAH”. Buah dari kesimpulanku akhirnya menjawab keragu-raguan tekadku untuk mencari ladang rezeki yang baru. Aku keluar. Keluar untuk mencari lingkungan yang menawarkan tunas nilai-nilai ukhuwah islami.

Ketika teman-temanku yang sejurusan beramai-ramai berlayar di daerah barat bumi Nusantara (Jabodetabek), aku memutar kemudi kapalku, mencoba menemukan ikan yang berlimpah ruah ke arah timur. Dan sampailah aku di kota Pahlawan. Kota yang terkenal dengan lambang ikan hiu dan buaya. Ya, Surabaya.

Di kota Bonek ini aku mulai menebarkan jaring-jaringku, mencoba ke pulau yang satu dan ke pulau yang lainnya, mencocokkan dengan konsep ukhuwah yang pernah aku kenal, dan akhirnya aku memutuskan berlabuh di tempat ini, tempat para calon-calon pemimpin dunia dicetak (mudah-mudahan bukan hanya sekedar jargon).

Setelah hampir satu tahun aku berbaur dengan para pelaku utama dan pelaku figuran di tempat ini, aku mulai terbiasa dengan rasa kecewa, sehingga kecewa bukan sesuatu yang mendorongku untuk menjadi seseorang yang reaktif (lagi). Ya, lagi-lagi, di tempat ini, konsep ukhuwah yang kukenal tidak seindah dulu. Terkadang kenangan memang jauh lebih indah, apa lagi saat kita menemukan pembandingnya di masa depan.

Semoga aku bisa membangun konsep itu dengan mereka (siapa pun itu) yang merindukan ukhuwah islamiyah yang indah, sangat indah….