Tak terasa satu tahun berlalu terakhir kali aku menulis dalam catatan idealisku ini. Banyak peristiwa, kenangan, pelajaran hidup, dan kisah hidupku berakhir tanpa dokumentasi. But, its okay, aku masih bersyukur, setidaknya sampai saat ini aku masih wanita yang memiliki prinsip hidup dan penuh mimpi, Alhamdulillah, say thanks to Allah, yang masih ngasih nikmat sehat dan islamNya untukku.
Terakhir kali aku menulis di catatan ini, aku
berprofesi sebagai seorang TPD di sebuah perusahaan kecil, yang ternyata tiga
bulan setelahnya aku harus move on dari profesi tersebut. Sebulan setelahnya
juga, aku mencoba melawan arus hidup.Yah, layaknya seekor ikan yang melawan
arus air, segitu jugalah kerepotan yang kuhadapi saat aku memutuskan hijrah ke
Surabaya. Jakarta ternyata bukanlah kota yang bisa bersahabat erat denganku,
kami cukup hanya saling tau satu sama lain saja, karena lebih banyak
ketidakcocokan antara aku, prinsipku, dan mimpi-mimpiku bila disandingkan
dengan kota Jakarta.
Singkat cerita, meskipun tidak singkat
sebenarnya, aku pindah ke Surabaya dengan modal pertemanan dengan seorang anak
ITS, Helvin namanya, sorang pecatur perempuan yang tangguh asal tanah garam
sana, Madura. Selain dengan modal itu, tentu saja dibutuhkan keberanian yang
besar dan sedikit tabungan hasil tiga bulan aku bekerja di perusahaan kecil
tadi yang akan menopang hidupku sampai aku mendapatkan profesi baru lagi.
Banyak yang terjadi, seiring bergulirnya
waktu, banyak orang yang sudah kutemui, banyak watak yang ku analisis dari
setiap pribadinya, hingga saat ini. Aku sendiri masih belum percaya akhirnya
aku terdampar pada profesi yang tak akan pernah aku izinkan melintas di benakku
sekali pun saat aku masih mahasiswa dulu, di mana profesi itu juga sangat
mulia, yaitu GURU.
Ya, pada akhirnya doa Bapakku terkabul juga,
beliau dulunya menginginkanku menjadi seorang guru, yang berakhir dengan
penolakanku mentah-mentah. Ternyata, benar, ridho orang tua adalah ridho nya
Allah. Di sinilah aku sekarang, menjalani hari-hariku menjadi seorang guru.
Profesi yang paling kuhindari dari saat aku mengenal kata cita-cita, profesi
yang tak akan kuizinkan sedetik pun hinggap di mimpi-mimpi hidupku.
Allah selalu memiliki rencana indah untuk
hambaNya, prinsip itulah, yang syukurnya, masih aku pegang sampai saat ini. Indah
memang kata-katanya, tapi jauh lebih indah saat aku bisa memaknainya setelah
melalui beribu bahkan berjuta kesulitan saat menjalani hari-hariku di sini, di
sekolah ini, di tempat calon-calon pemimpin dunia meniti anak tangga bawah
mimpi-mimpi mereka.
Permen nano-nano hidupku yang baru mulai
masuk ke dalam mulut-mulut kehidupanku, dan lidah-lidah kehidupanku mulai
menyesuaikan diri dengan kejutan-kejutan rasanya. Sering rasa itu menyenangkan
saat rasa manis mengalir ke lidah kehidupanku, namun tak jarang pula rasa pedas
dan asam, bahkan asin, sangat asin menghantam ujung-ujung lidah kehidupanku
saat lidah kehidupanku belum siap.
Yup, hidupku sekarang lebih bergelombang,
tapi di sanalah justru seni keindahan menikmati hidup. Tak jarang air mataku
mengalir deras, hatiku bagai diiris sembilu, dan ledakan-ledakan emosiku harus
kutahan, agar aku bisa menjadi manusia yang menjadi jauh berkualitas dibanding
waktu-waktu lampau. Hanya ucapan “Bismillah” yang kuucapkan saat melewati
semuanya serta penepisan fikiran-fikiran negatif terhadap Sang Khalik, agar aku
senantiasa tawadhu menghadapi rahasia-rahasia lain kehidupan yang telah
dipersiapkan olehNya. Lain waktu, akan kutuliskan cerita-cerita para pemompa
semangatku di tempat ini, merekalah pemicu kerja kerasku, para Pemimpin dunia
yang masih hijau dan haus akan ilmu serta nilai-nilai kehidupan. Merekalah
siswaku, anak-nakaku, sahabatku dan sumber semangat mengajarku…. Merekalah para
Muhammad kecil…
