Monday, July 30, 2012

After Long, long, loooong Time not writing anything here



Tak terasa satu tahun berlalu terakhir kali aku menulis dalam catatan idealisku ini. Banyak peristiwa, kenangan, pelajaran hidup, dan kisah hidupku berakhir tanpa dokumentasi. But, its okay, aku masih bersyukur, setidaknya sampai saat ini aku masih wanita yang memiliki prinsip hidup dan penuh mimpi, Alhamdulillah, say thanks to Allah, yang masih ngasih nikmat sehat dan islamNya untukku.

Terakhir kali aku menulis di catatan ini, aku berprofesi sebagai seorang TPD di sebuah perusahaan kecil, yang ternyata tiga bulan setelahnya aku harus move on dari profesi tersebut. Sebulan setelahnya juga, aku mencoba melawan arus hidup.Yah, layaknya seekor ikan yang melawan arus air, segitu jugalah kerepotan yang kuhadapi saat aku memutuskan hijrah ke Surabaya. Jakarta ternyata bukanlah kota yang bisa bersahabat erat denganku, kami cukup hanya saling tau satu sama lain saja, karena lebih banyak ketidakcocokan antara aku, prinsipku, dan mimpi-mimpiku bila disandingkan dengan kota Jakarta. 

Singkat cerita, meskipun tidak singkat sebenarnya, aku pindah ke Surabaya dengan modal pertemanan dengan seorang anak ITS, Helvin namanya, sorang pecatur perempuan yang tangguh asal tanah garam sana, Madura. Selain dengan modal itu, tentu saja dibutuhkan keberanian yang besar dan sedikit tabungan hasil tiga bulan aku bekerja di perusahaan kecil tadi yang akan menopang hidupku sampai aku mendapatkan profesi baru lagi. 

Banyak yang terjadi, seiring bergulirnya waktu, banyak orang yang sudah kutemui, banyak watak yang ku analisis dari setiap pribadinya, hingga saat ini. Aku sendiri masih belum percaya akhirnya aku terdampar pada profesi yang tak akan pernah aku izinkan melintas di benakku sekali pun saat aku masih mahasiswa dulu, di mana profesi itu juga sangat mulia, yaitu GURU.

Ya, pada akhirnya doa Bapakku terkabul juga, beliau dulunya menginginkanku menjadi seorang guru, yang berakhir dengan penolakanku mentah-mentah. Ternyata, benar, ridho orang tua adalah ridho nya Allah. Di sinilah aku sekarang, menjalani hari-hariku menjadi seorang guru. Profesi yang paling kuhindari dari saat aku mengenal kata cita-cita, profesi yang tak akan kuizinkan sedetik pun hinggap di mimpi-mimpi hidupku.


Allah selalu memiliki rencana indah untuk hambaNya, prinsip itulah, yang syukurnya, masih aku pegang sampai saat ini. Indah memang kata-katanya, tapi jauh lebih indah saat aku bisa memaknainya setelah melalui beribu bahkan berjuta kesulitan saat menjalani hari-hariku di sini, di sekolah ini, di tempat calon-calon pemimpin dunia meniti anak tangga bawah mimpi-mimpi mereka.

Permen nano-nano hidupku yang baru mulai masuk ke dalam mulut-mulut kehidupanku, dan lidah-lidah kehidupanku mulai menyesuaikan diri dengan kejutan-kejutan rasanya. Sering rasa itu menyenangkan saat rasa manis mengalir ke lidah kehidupanku, namun tak jarang pula rasa pedas dan asam, bahkan asin, sangat asin menghantam ujung-ujung lidah kehidupanku saat lidah kehidupanku belum siap. 

Yup, hidupku sekarang lebih bergelombang, tapi di sanalah justru seni keindahan menikmati hidup. Tak jarang air mataku mengalir deras, hatiku bagai diiris sembilu, dan ledakan-ledakan emosiku harus kutahan, agar aku bisa menjadi manusia yang menjadi jauh berkualitas dibanding waktu-waktu lampau. Hanya ucapan “Bismillah” yang kuucapkan saat melewati semuanya serta penepisan fikiran-fikiran negatif terhadap Sang Khalik, agar aku senantiasa tawadhu menghadapi rahasia-rahasia lain kehidupan yang telah dipersiapkan olehNya. Lain waktu, akan kutuliskan cerita-cerita para pemompa semangatku di tempat ini, merekalah pemicu kerja kerasku, para Pemimpin dunia yang masih hijau dan haus akan ilmu serta nilai-nilai kehidupan. Merekalah siswaku, anak-nakaku, sahabatku dan sumber semangat mengajarku…. Merekalah para Muhammad kecil…