Sunday, November 11, 2012

Haruskah selalu maju saat tantangan muncul???



Tulisanku yang di atas, sebelum judul baru ini kutulis, sengaja tak kuteruskan. Ada banyak alasannya aku tak meneruskan tulisan yang di atas. Pertama, ide-ide menulis tentang hal tersebut banyak yang menguap layaknya air yang dijemur di terik panasnya matahari. Kedua, aku punya ide-ide baru yang lebih fresh, dan jika tidak segera kutuliskan, maka ide-ide baru tersebut akan menguap juga. Ketiga, alasan yang paling penting, udah males ngebahasnya.

Ok, to the next topic. Hari-hariku terus berjalan di ICM. Banyak pelajaran hidup yang kunikmati di tempat ini. Seperti di tulisanku sebelumnya, rasanya nano-nano. Ada rasa manis, asam, pedas, asin, bahkan pahit.

Ada yang menarik pagi ini. Sebuah kalimat “Tantangan itu JANGAN DIHINDARI, APALAGI HARUS MUNDUR, tapi HARUS SELALU DIHADAPI”. Sejenak otak dan hatiku berlomba-lomba untuk memaknai kalimat dahsyat tersebut, bagai terkena mantra sihir. Merenung aku sejenak, di tengah kata-kata seseorang. Lalu, kurasakan ada penolakan dari sebagian hati dan otakku, dan ada penerimaan lagi dari setengah bagian hati dan otakku.

Kata-kata “TANTANGAN HARUS DIHADAPI” memang terlihat tangguh dan tegas. Dan, aku sangat setuju untuk hal yang satu ini. Tantangan, masalah, kesulitan memang harus dihadapi. Tapi apakah harus selalu maju dan tak pernah mundur bila ada tantangan? Ini yang membuat aku kurang setuju. Kenapa? Lets see it.

Aku akui, setiap orang punya filosofi hidup yang berbeda, kalau sama hidup pasti tidak menarik dan pasti sangat membosankan. Ada yang menjalani hidup ini bagai petualang, dan mungkin bagi orang lain lainnya hidup adalah panggung sandiwara, atau ada yang menjalani hidup bagai air mengalir. Namun, bagiku hidup ini dijalani seperti kita bermain catur. Ada yang menjadi lawan dan kawan. Ada yang menjadi penasihat, pembantu, bahkan pemimpin. Tapi bukan di sana titik berat penglihatanku terhadap analogi hidup dan permainan catur. Titik pointku adalah bagaimana kita memainkan dan menempatkan bidak-bidak catur kita di petak-petak yang tepat di sebuah papan catur. Bagaimana kita menyusun strategi kapan saatnya harus bergerak maju, melawan, dan menyerang atau memutuskan untuk berkorban dan mundur sejenak untuk menyusun strategi baru atau pun mengecoh perhatian lawan. 

Begitu juga hidup. Kita harus menempatkan semua permasalahan yang kita alami di tempat yang tepat. Kadang-kadang bahkan sering, kita harus berkorban untuk mencapai tujuan besar kita. Sama halnya saat permainan catur, saat kita mengorbakan dua buah pion kita untuk sebuah tentara kuda lawan. Secara kuantitas, jelas kita korban dua, tetapi secara kualitas, kita menang satu perwira penting. Begitu juga halnya tentang hidup. 


Dalam permainan catur, ketika sebuah perwira kita diancam, maka ada tiga pilihan yang bisa kita lakukan. Pilihan pertama adalah tukar perwira. Pilihan kedua adalah mengancam balik. Dan pilihan ketiga adalah mundur. Apakah kemunduran perwira tersebut merupakan suatu pengakuan kalah? Belum tentu. Mundurnya seorang perwira dalam sebuah permainan catur bisa mendatangkan keuntungan atau kerugian, tergantung posisi seluruh bidak saat itu. Mundurnya seorang perwira, bisa untuk mengalihkan atau mengecoh perhatian lawan, yang membuat kita bisa menggunakan waktu lebih lama untuk menyusun strategi lanjutan. 

Begitu juga kehidupan ini. Saat kita berada dalam suatu permasalahan, sudah pasti kita harus menghadapinya. Namun, ada kalanya kita harus mundur sejenak untuk menyusun rencana dan strategi baru. Kadang-kadang kemunduran kita dipandang rendah oleh orang lain. Tapi bukankah cukup bila Allah saja yang tahu akan niatan mundur kita?


Mundur tidak harus membawa kekalahan dan maju tidak selalu membawa kemenangan. Ada kalanya kita mundur sejenak untuk memberikan ruang bagi rencana, ide, dan strategi baru hidup kita. Tapi memang, MASALAH HARUS DIHADAPI. Tapi bukan berarti mundur itu salah, karena bila mundur sejenak untuk menyusun strategi yang lebih matang membuat sesuatu lebih baik, kenapa tidak?

Wallahu’alam bishowab….

Monday, August 6, 2012

Hanya Sebuah simbol, benarkah???



Apa yang pertama kali muncul di benak kalian saat mendengar kata “PEMIMPIN”??? Kekuasaan, Jabatan, Pengatur, Manager, atau???

Yang pasti, dengan sangat yakin 90%, aku menebak pasti hal yang besar yang terlintas di fikiran kalian masing-masing bukan. Begitu juga aku, ketika mendengar kata pemimpin, hal yang pertama kali meluncur di benakku adalah sesosok orang yang memiliki kharisma serta kewibawaan sejalan dengan nama yang disandangnya, PEMIMPIN.

Dari ilmu pelatihan dan buku-buku yang kubaca saat masih menjadi mahasiswa dulu, pemimpin memiliki tipe yang beragam macamnya. Tergantung, dari teori siapa kita berkiblat. Dari berbagai teori tersebut jugalah kita akan menemukan pemimpin yang ideal menurut teori tersebut atau pun menurut diri kita sendiri, setidaknya akhirnya kita tahu dan bisa menentukan kriteria minimal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. 

Ok, kukatakan dengan jujur bahwa aku adalah termasuk salah satu orang yang sangat menuntut sebuah keidealan dari seorang pemmpin. Tapi, aku terkadang juga bisa menoleransi kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Toh, bagaimana pun juga pemimpin adalah seorang manusia, bukan sebuah pelecut kuda yang bisa melecut kuda sesuka pengemudi kuda dengan sempurna. 

Ada perasaan galau saat mengetahui bahwa yang menjadi pemimpinku sekarang diangkat menjadi pemimpinku. Yah, hal itu memang harus kuterima dengan pasrah, karena bagaimana pun juga di atas pemimpinku ada pemimpinnya pemimpinku, dan pemimpinku itu ditentukan oleh pemimpinnya pemimpinku tersebut. Ribet memang, rumit pasti, tapi begitulah hidup. 

Seiring berjalannya waktu, aku berusaha untuk menepiskan rasa galau ku itu ke sudut hatiku yang dalam, kalau boleh keluar total dari hatiku, andaikan bisa. Ternyata, perkiraanku benar, sangat sulit untuk mengeluarkannya dari hatiku. 

Selama ini aku tidak menepiskan kalau aku adalah bawahan yang kurang loyal. Salah memang tetap salah ….

Monday, July 30, 2012

After Long, long, loooong Time not writing anything here



Tak terasa satu tahun berlalu terakhir kali aku menulis dalam catatan idealisku ini. Banyak peristiwa, kenangan, pelajaran hidup, dan kisah hidupku berakhir tanpa dokumentasi. But, its okay, aku masih bersyukur, setidaknya sampai saat ini aku masih wanita yang memiliki prinsip hidup dan penuh mimpi, Alhamdulillah, say thanks to Allah, yang masih ngasih nikmat sehat dan islamNya untukku.

Terakhir kali aku menulis di catatan ini, aku berprofesi sebagai seorang TPD di sebuah perusahaan kecil, yang ternyata tiga bulan setelahnya aku harus move on dari profesi tersebut. Sebulan setelahnya juga, aku mencoba melawan arus hidup.Yah, layaknya seekor ikan yang melawan arus air, segitu jugalah kerepotan yang kuhadapi saat aku memutuskan hijrah ke Surabaya. Jakarta ternyata bukanlah kota yang bisa bersahabat erat denganku, kami cukup hanya saling tau satu sama lain saja, karena lebih banyak ketidakcocokan antara aku, prinsipku, dan mimpi-mimpiku bila disandingkan dengan kota Jakarta. 

Singkat cerita, meskipun tidak singkat sebenarnya, aku pindah ke Surabaya dengan modal pertemanan dengan seorang anak ITS, Helvin namanya, sorang pecatur perempuan yang tangguh asal tanah garam sana, Madura. Selain dengan modal itu, tentu saja dibutuhkan keberanian yang besar dan sedikit tabungan hasil tiga bulan aku bekerja di perusahaan kecil tadi yang akan menopang hidupku sampai aku mendapatkan profesi baru lagi. 

Banyak yang terjadi, seiring bergulirnya waktu, banyak orang yang sudah kutemui, banyak watak yang ku analisis dari setiap pribadinya, hingga saat ini. Aku sendiri masih belum percaya akhirnya aku terdampar pada profesi yang tak akan pernah aku izinkan melintas di benakku sekali pun saat aku masih mahasiswa dulu, di mana profesi itu juga sangat mulia, yaitu GURU.

Ya, pada akhirnya doa Bapakku terkabul juga, beliau dulunya menginginkanku menjadi seorang guru, yang berakhir dengan penolakanku mentah-mentah. Ternyata, benar, ridho orang tua adalah ridho nya Allah. Di sinilah aku sekarang, menjalani hari-hariku menjadi seorang guru. Profesi yang paling kuhindari dari saat aku mengenal kata cita-cita, profesi yang tak akan kuizinkan sedetik pun hinggap di mimpi-mimpi hidupku.


Allah selalu memiliki rencana indah untuk hambaNya, prinsip itulah, yang syukurnya, masih aku pegang sampai saat ini. Indah memang kata-katanya, tapi jauh lebih indah saat aku bisa memaknainya setelah melalui beribu bahkan berjuta kesulitan saat menjalani hari-hariku di sini, di sekolah ini, di tempat calon-calon pemimpin dunia meniti anak tangga bawah mimpi-mimpi mereka.

Permen nano-nano hidupku yang baru mulai masuk ke dalam mulut-mulut kehidupanku, dan lidah-lidah kehidupanku mulai menyesuaikan diri dengan kejutan-kejutan rasanya. Sering rasa itu menyenangkan saat rasa manis mengalir ke lidah kehidupanku, namun tak jarang pula rasa pedas dan asam, bahkan asin, sangat asin menghantam ujung-ujung lidah kehidupanku saat lidah kehidupanku belum siap. 

Yup, hidupku sekarang lebih bergelombang, tapi di sanalah justru seni keindahan menikmati hidup. Tak jarang air mataku mengalir deras, hatiku bagai diiris sembilu, dan ledakan-ledakan emosiku harus kutahan, agar aku bisa menjadi manusia yang menjadi jauh berkualitas dibanding waktu-waktu lampau. Hanya ucapan “Bismillah” yang kuucapkan saat melewati semuanya serta penepisan fikiran-fikiran negatif terhadap Sang Khalik, agar aku senantiasa tawadhu menghadapi rahasia-rahasia lain kehidupan yang telah dipersiapkan olehNya. Lain waktu, akan kutuliskan cerita-cerita para pemompa semangatku di tempat ini, merekalah pemicu kerja kerasku, para Pemimpin dunia yang masih hijau dan haus akan ilmu serta nilai-nilai kehidupan. Merekalah siswaku, anak-nakaku, sahabatku dan sumber semangat mengajarku…. Merekalah para Muhammad kecil…