Tulisanku yang di atas, sebelum judul baru ini kutulis, sengaja tak kuteruskan. Ada banyak alasannya aku tak meneruskan tulisan yang di atas. Pertama, ide-ide menulis tentang hal tersebut banyak yang menguap layaknya air yang dijemur di terik panasnya matahari. Kedua, aku punya ide-ide baru yang lebih fresh, dan jika tidak segera kutuliskan, maka ide-ide baru tersebut akan menguap juga. Ketiga, alasan yang paling penting, udah males ngebahasnya.
Ok, to the next topic. Hari-hariku terus
berjalan di ICM. Banyak pelajaran hidup yang kunikmati di tempat ini. Seperti
di tulisanku sebelumnya, rasanya nano-nano. Ada rasa manis, asam, pedas, asin,
bahkan pahit.
Ada yang menarik pagi ini. Sebuah kalimat
“Tantangan itu JANGAN DIHINDARI, APALAGI HARUS MUNDUR, tapi HARUS SELALU
DIHADAPI”. Sejenak otak dan hatiku berlomba-lomba untuk memaknai kalimat dahsyat
tersebut, bagai terkena mantra sihir. Merenung aku sejenak, di tengah kata-kata
seseorang. Lalu, kurasakan ada penolakan dari sebagian hati dan otakku, dan ada
penerimaan lagi dari setengah bagian hati dan otakku.
Kata-kata “TANTANGAN HARUS DIHADAPI” memang
terlihat tangguh dan tegas. Dan, aku sangat setuju untuk hal yang satu ini.
Tantangan, masalah, kesulitan memang harus dihadapi. Tapi apakah harus selalu
maju dan tak pernah mundur bila ada tantangan? Ini yang membuat aku kurang
setuju. Kenapa? Lets see it.
Aku akui, setiap orang punya filosofi hidup
yang berbeda, kalau sama hidup pasti tidak menarik dan pasti sangat
membosankan. Ada yang menjalani hidup ini bagai petualang, dan mungkin bagi
orang lain lainnya hidup adalah panggung sandiwara, atau ada yang menjalani
hidup bagai air mengalir. Namun, bagiku hidup ini dijalani seperti kita bermain
catur. Ada yang menjadi lawan dan kawan. Ada yang menjadi penasihat, pembantu,
bahkan pemimpin. Tapi bukan di sana titik berat penglihatanku terhadap analogi
hidup dan permainan catur. Titik pointku adalah bagaimana kita memainkan dan
menempatkan bidak-bidak catur kita di petak-petak yang tepat di sebuah papan
catur. Bagaimana kita menyusun strategi kapan saatnya harus bergerak maju,
melawan, dan menyerang atau memutuskan untuk berkorban dan mundur sejenak untuk
menyusun strategi baru atau pun mengecoh perhatian lawan.
Begitu juga hidup. Kita harus menempatkan
semua permasalahan yang kita alami di tempat yang tepat. Kadang-kadang bahkan
sering, kita harus berkorban untuk mencapai tujuan besar kita. Sama halnya saat
permainan catur, saat kita mengorbakan dua buah pion kita untuk sebuah tentara
kuda lawan. Secara kuantitas, jelas kita korban dua, tetapi secara kualitas,
kita menang satu perwira penting. Begitu juga halnya tentang hidup.
Dalam permainan catur, ketika sebuah perwira
kita diancam, maka ada tiga pilihan yang bisa kita lakukan. Pilihan pertama adalah
tukar perwira. Pilihan kedua adalah mengancam balik. Dan pilihan ketiga adalah
mundur. Apakah kemunduran perwira tersebut merupakan suatu pengakuan kalah?
Belum tentu. Mundurnya seorang perwira dalam sebuah permainan catur bisa
mendatangkan keuntungan atau kerugian, tergantung posisi seluruh bidak saat
itu. Mundurnya seorang perwira, bisa untuk mengalihkan atau mengecoh perhatian
lawan, yang membuat kita bisa menggunakan waktu lebih lama untuk menyusun
strategi lanjutan.
Begitu juga kehidupan ini. Saat kita berada
dalam suatu permasalahan, sudah pasti kita harus menghadapinya. Namun, ada
kalanya kita harus mundur sejenak untuk menyusun rencana dan strategi baru.
Kadang-kadang kemunduran kita dipandang rendah oleh orang lain. Tapi bukankah
cukup bila Allah saja yang tahu akan niatan mundur kita?
Mundur tidak harus membawa kekalahan dan maju
tidak selalu membawa kemenangan. Ada kalanya kita mundur sejenak untuk
memberikan ruang bagi rencana, ide, dan strategi baru hidup kita. Tapi memang,
MASALAH HARUS DIHADAPI. Tapi bukan berarti mundur itu salah, karena bila mundur
sejenak untuk menyusun strategi yang lebih matang membuat sesuatu lebih baik,
kenapa tidak?
Wallahu’alam bishowab….


