Friday, April 9, 2010

Maaf, Kesabaran, dan Ucapan Terima Kasih



Sudah lama sekali tidak menuliskan ide-ide, pikiran-pikiran, pandangan-pandangan, opini-opini, or whateverlah yang ada in my mind… Yah, hampir setahun lamanya banyak hal yang ingin kutuangkan sebenarnya ke dalam bentuk tulisan, tapi apalah daya, karena sibuk dengan ketidaksibukan, akhirnya pikiran dan ide-ide yang terlintas di kepala, menguap begitu saja, kadang dengan jejak, kadang tanpa jejak sama sekali, wuisss... seperti halnya hembusan angin. 

Sekarang aku sudah tidak aktif lagi dalam Lembaga Kegiatan Mahasiswa. Yah, mungkin ini salah satu pengaruh mengapa sudah tidak pernah lagi meyempatkan sedikit waktuku untuk menuliskan ide-ide atau pikiran-pikiran yang sempat singgah dikepalaku,  yang punya  daya tampung yang terbatas ini. Sebenarnya rindu akan kesibukan terdahulu, tapi aku tahu dan sadar, waktu akan terus berputar, dan regenerasi zaman adalah suatu keniscayaan yang pasti terjadi. 

Jadi karena sudah tidak begitu aktif di lembaga kegiatan mahasiswa, yah mungkin lintasan-lintasan yang ada di kepalaku saat ini lebih fokus pada makna hidup, alur hidup, atau segala sesuatu yang berkaitan tentang hidup, tidak hanya seputar idealisme seorang aktivis mahasiswa saja, tapi aku dengan sangat sadar menuangkan segala yang terlintas dikepalaku sebagai seorang manusia.

Hal pertama yang kuangkat adalah tentang kat “MAAF”. Kita pasti sering mendengar atau mengucapkan kata ini. MAAF bukanlah kata yang asing di telinga kita. MAAF sangat familiar, baik di telinga atau di lidah kita. Tapi apakah dia mudah meluncur dari bibir kita atau ringan terdengar di telinga kita, diikuti dengan hati yang lapang??? Wallahua’alam bishowab. Kadang-kadang kesombongan kita, keegoisan kita, ego manusia kita sangat besar untuk mampu mengucapkan kata-kata tersebut di lidah kita. Atau keangkuhan diri kita, kekejaman fikiran kita atau keserakahan kita membuat telinga kita tidak tahan untuk mendengar kata MAAF. Meminta maaf memang sangatlah berat. Aku sangat salut pada seseorang yang dengan rasa kerendahan hatinya, bukan berarti dia menjatuhkan harga dirinya, untuk meminta maaf. Meminta maaf bukanlah berarti menjatuhkan harga diri kita, bukan berarti menggerogoti habis jiwa kita, bukan berarti menurunkan derajat kemuliaan kita sebagai mahluk tertinggi di hadapan Allah, bukan berarti mengurangi kehebatan-kehebatan yang kita miliki. Berani meminta maaf adalah salah satu cara menunjukkan rasa penyesalan dari kesalahan yang telah kita perbuat, maaf berarti membuat jiwa kita semakin besar dan mampu lebih lapang untuk menerima kesalahan kita, maaf menunjukkan penghargaan kepada seseorang yang telah dengan berani menegur kesalahan kita. Karena, ketika seseorang masih mau menegur kita karena kesalahan kita, maka itu adalah salah satu bentuk perhatian orang tersebut pada kita. Tapi ada yang membuatku lebih salut dibanding meminta maaf dengan berani, sadar, dan hati yang lapang. Yaitu memberi maaf dengan senyuman, sadar, dan hati yang lapang. Meminta maaf, kadang-kadang terlihat sangat sulit untuk dilakukan, karena seolah-olah mengikis sebagian harga diri kita. Namun, ternyata ada yang lebih sulit lagi dilakukan, yaitu memaafkan. Memaafkan kadang-kadang jauh lebih sulit dilakukan, apa lagi ketika kesalahan yang diperbuat oleh orang lain sangat menyakiti hati kita atau berdampak sangat dalam pada kehidupan kita. Bahkan, kadang-kadang kesalahan kecil pun sangat sulit untuk kita maafkan. Namun memaafkan sangatlah mengajarkan hal penting dalam hidup. Ketika kita berani memaafan, maka kita sudah merintis hidup kita menjadi seorang yang berjiwa besar, berlapang dada, belajar menjadi seorang pemurah, dan yang paling penting adalah kita lebih bisa belajar ikhlas.

Seperti kata-kata yang sangat aku suka, yang berkaitan dengan  ilmu yang kudalami saat ini, kimia, dari sebuah novel MAMIMOMA,


“Asam klorida biasanya lebih memiliki efek merusak pada wadah tempat ia disimpan daripada objek ia dituang. Seperti itulah efek kebencian pada hati, kebencian hanya akan lebih menyakiti dan merusak hati kita dari pada orang yang kita benci….”.

Hal kedua yang tidak kalah pentingnya yang menguji keikhlasan kita dalah kesabaran. Ya SABAR. Kata sabar juga sudah tak asing ditelinga kita. Namun kadang-kadang sungguh sangat sulit untuk dilakukan. Kadang-kadang karena ego kita, kita melalaikan rasa sabar tersebut, hanya untuk menunjukkan keangkuhan kita. Seperti Riwayat seorang sahabat Rasulullah,


Taubat itu wajib bagi seseorang, tapi lebih wajib lagi baginya untuk meninggalkan dosa. Perjalanan waktu itu sangat mengherankan, tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu. SABAR ITU SULIT, TAPI HILANGNYA KESABARAN ITU LEBIH SULIT AKIBATNYA. Semua yang bisa dicapai itu dekat, tapi kematian itu lebih dekat dari semuanya (Ali Bin Abi Thalib).

Terima kasih…. Ternyata bukan hanya kata MAAF yang kadang-kadang kelu diucapkan oleh lidah kita. Kadang-kadang ketika mengungkapkan rasa terimakasih kita pada seseorang sangat sulit dilakukan. Padahal, terimakasih merupakan ungkapan yang singkat yang memilki dampak yang saaaangatttttt besar. Beberapa hari belakang, atau mungkin sebulan kebelakang ini, aku diajarkan oleh sesorang, yang dengan sangat mudahnya mengucapkan terima kasih. Kata ini sangat kecil dan singkat, namun memberikan efek yang sangat besar bagi orang yang mendengarkan, apa lagi pada orang yang di tuju. Mungkin aku juga harus belajar membiasakan mengucapkan kata-kata tersebut tulus dari hatiku. Banyak hal yang harus patut aku syukuri. Artinya aku juga harus sering-sering berterima kasih kepada sang Khalik, yang telah memberikan orang-orang yang telah hadir di dalam hidupku.


TERIMA KASIH YA ALLAH,,,,