Friday, December 24, 2010

Mengubah Nasib, How Can ?!?! Absolutely, Can be !!!



Hmmm, judulnya, semua orang pasti tahu itulah jawabannya (tidak harus cerdas untuk mengomentarinya). Ya bagaimana bisa?!?! Tentu saja bisa!!! 

Kuncinya adalah ikhtiar, usaha, tawakkal, dan ikhlas. Teorinya sih sangat mudah, prakteknya, beuhhhh gampang-gampang susah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Beberapa minggu yang lalu, sekitar dua minggu mungkin, aku ketemu seorang pedagang asongan di bus Damri. Ketemu pedagang asongan di damri bukan merupakan hal yang istimewa menurutku, dan mungkin juga menurut kebanyakan orang. Tapi, untuk pedagang yang satu ini, ada yang spesial di mataku. Pedagang asongan ini adalah seorang bapak yang umurnya mungkin akhir 30-an. Dia berdagang tissue, permen, atau camilan sejenisnya. Tidak ada yang aneh dengan penampilan bapak ini, sangat wajar, layaknya tampilan seorang bapak-bapak yang biasa saja, dan layaknya seorang pedagang asongan, berusaha menjajakan dagangannya pada setiap penumpang bus sebelum bus itu berangkat.

Tapi, eits, tunggu dulu... aku kenal dengan bapak itu, bukan kenal dalam arti kita pernah kenalan atau pernah bertegur sapa lalu menjadi sahabat, bukan bukan seperti itu. Tapi, sebelumnya aku sering melihat bapak itu, di tempat yang sama, bus Damri, tapi profesi yang berbeda. Ya, benar, aku yakin, profesinya berbeda dan aku yakin banget, bahwa bapak itu adalah bapak yang sama. 

Ya, sekitar tiga minggu sebelumnya (lima minggu yang lalu terhitung dari sekarang), bapak tersebut masih berprofesi sebagai peminta sumbangan untuk pembangunan masjid disuatu daerah yang aku tahu, tapi belum pernah ke daerah tersebut. Bapak tersebut aku kenal, karena seringnya aku naik bus dan seringnya aku melihat bapak tersebut. Dengan pidatonya yang sama, dan teknik yang sama, serta kotak amal yang sama, dia meminta sumbangan dari para penumpang untuk pembangunan masjid di daerah yang tak pernah ku kunjungi tersebut. Yah, ada sekitar sepuluh kali lah aku ketemu dengan bapak tersebut, dan hampir 50% dari pertemuan itu aku memberikan sumbangan pada bapak itu. Bukan bermaksud pamer, tapi hanya sekedar ingin membuat hitungan kalau sekiranya si bapak tersebut sudah sekitar tiga bulan di bus damri tersebut, dan mendapatkan minimal sumbangan dari lima orang penumpang dari setiap bis yang akan berangkat, dan minimal sumbangan tersebut berjumlah sama dengan uang yang aku sumbangkan, kira-kira berapakah yang didapatkan oleh bapak tersebut???

Oke, tidak perlu memusingkan berapa jumlah yang didapatkan si bapak tersebut, dan apakah uang yang kita beri benar-benar dibuat untuk pembangunan masjid atau tidak. Lupakan hal tersebut untuk sejenak. Karena yang ingin aku ambil titik pointnya disini adalah, si bapak itu sekarang beralih profesi. 

Ya, BERALIH PROFESI, menjadi seorang pedagang asongan. Apa istimewanya bila ia beralih profesi? Sangat istimewa menurutku. Kok bisa? Karena itu artinya dia tidak membutuhkan belas kasihan orang lain lagi untuk mendapatkan uang. Terlepas dari uang yang dia gunakan mungkin berasal dari sebagian hasil memungut sumbangan dari para penumpang bis, atau 100% modalnya memang berasal dari itu. Terlepas dari itu semua, setidaknya si bapak tersebut punya keinginan untuk merubah taraf hidupnya dengan cara yang lebih baik dan bermartabat. Menjadi pedagang asongan bukanlah suatu pekerjaan yang hina atau haram. 

Wallahualam bishowab dengan kejelasan halal atau tidaknya penghasilan si bapak tersebut, tapi yang pasti aku memberikan aplaus untuk bapak tersebut, dengan keinginannya untuk merubah taraf hidupnya. Setidaknya, bapak ini tidak berhenti pada satu titik, menjadi seorang peminta sumbangan, yag mengharapkan belas kasihan orang lain. Artinya bapak tersebut ingin mengubah nasib dengan ikhtiarnya.

Jadi ingat film “Alangkah lucunya negri ini”, yang menggambarkan wajah negri ini. Dimana, di film tersebut menceritakan kisah para pencopet yang berusaha mengubah jalan hidupnya, tapi tetap modalnya dari hasil mencopet. Disitu sih katanya itu duit haram, tapi hanya Allah yang tahu apakah hasil akhirnya ketika mereka berhasil berubah, halal atau tidaknya uang tersebut. Apakah bisa dikatakan mereka bertaubat??? Wallahualam bishowab. Hanya Allah yang tahu dan berhak memberikan penilaian.

Bagaimana pun, semua orang punya hak dan kesempatan untuk memilih dan mengubah jalan hidupnya. Because Life is a Choice...

Tapi, untuk baiknya, maka lebih baik sumber, proses dan hasil yang kita lakukan adalah berasal dari kebaikan sehingga bisa mencapai ridho Allah.

Sunday, December 12, 2010

Dimanakah diriku ???



Sudah sangat lama tidak menuliskan ide-ide yang terlintas di kepalaku. Aku merindukan saat-saat aku masih aktif di organisasi kampus dulu. Banyak kejadian dan peristiwa yang terukir di sejarah peradaban manusia belakangan ini. Banyak perubahan yang terjadi dengan dunia. Bagaimana dengan kalian??? Dan bagaimana dengan diriku???

Judul tulisanku sangat miris ya, bila dibaca oleh rekan-rekan junior di kampus, bahkan mungkin kalian juga tertawa membaca judul dari tulisanku. Jujur, tapi itulah yang kurasakan saat ini…. Sedikit kosong, hampa, dan jauh dari sosok seorang mahasiswa yang berjuang mengatasnamakan Rakyat Indonesia.

Banyak aktifitas yang terasa menjemukan saat ini. Apakah, karena aku yang memilih jalur tersebut??? Hhhhh entahlah ….

Is Everything stop in the unsaturated moment??? I don’t know…

Aku merindukan teman, rekan-rekan, saudara-saudara seperjuangan dulu ketika masih aktif di organisasi kampus. Namun, waktu terus berjalan, kenangan tidak dapat diputar kembali, moment-moment yang indah tidak dapat diulang dengan keindahan yang sama, dan aku, dia, mereka, kalian semua bertambah tua …. Time must go on ….

Saat ini aku sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhirku, sebagai syarat aku berhak mendapatkan gelar “S.Si.” di akhir namaku. Yah, mungkin karena itulah, akhirnya sekarang aku sangat ketinggalan berita-berita yang ter up-date di kampus (Jatinangor), sebab penelitianku di Bandung.

Targetanku, aku ingin wisuda di bulan Februari mendatang, tapi Allah berkehendak lain, jadi wisudaku terunda. Namun, aku berharap dan berusaha agar semua pekerjaanku yang berkaitan dengan penelitianku selesai di akhir Januari mendatang.

Allah ternyata masih mengujiku, aku masih harus dengan sabar menyaksikan teman-temanku yang lain diwisuda dan menyandang gelar sarjana di akhir nama mereka. Ternyata aku belum lulus ujian itu ya Rabb ….


Semakin bingung dari hari kehari, semakin hampa, semakin kosong ….


Dimanakah diriku???

Friday, April 9, 2010

Maaf, Kesabaran, dan Ucapan Terima Kasih



Sudah lama sekali tidak menuliskan ide-ide, pikiran-pikiran, pandangan-pandangan, opini-opini, or whateverlah yang ada in my mind… Yah, hampir setahun lamanya banyak hal yang ingin kutuangkan sebenarnya ke dalam bentuk tulisan, tapi apalah daya, karena sibuk dengan ketidaksibukan, akhirnya pikiran dan ide-ide yang terlintas di kepala, menguap begitu saja, kadang dengan jejak, kadang tanpa jejak sama sekali, wuisss... seperti halnya hembusan angin. 

Sekarang aku sudah tidak aktif lagi dalam Lembaga Kegiatan Mahasiswa. Yah, mungkin ini salah satu pengaruh mengapa sudah tidak pernah lagi meyempatkan sedikit waktuku untuk menuliskan ide-ide atau pikiran-pikiran yang sempat singgah dikepalaku,  yang punya  daya tampung yang terbatas ini. Sebenarnya rindu akan kesibukan terdahulu, tapi aku tahu dan sadar, waktu akan terus berputar, dan regenerasi zaman adalah suatu keniscayaan yang pasti terjadi. 

Jadi karena sudah tidak begitu aktif di lembaga kegiatan mahasiswa, yah mungkin lintasan-lintasan yang ada di kepalaku saat ini lebih fokus pada makna hidup, alur hidup, atau segala sesuatu yang berkaitan tentang hidup, tidak hanya seputar idealisme seorang aktivis mahasiswa saja, tapi aku dengan sangat sadar menuangkan segala yang terlintas dikepalaku sebagai seorang manusia.

Hal pertama yang kuangkat adalah tentang kat “MAAF”. Kita pasti sering mendengar atau mengucapkan kata ini. MAAF bukanlah kata yang asing di telinga kita. MAAF sangat familiar, baik di telinga atau di lidah kita. Tapi apakah dia mudah meluncur dari bibir kita atau ringan terdengar di telinga kita, diikuti dengan hati yang lapang??? Wallahua’alam bishowab. Kadang-kadang kesombongan kita, keegoisan kita, ego manusia kita sangat besar untuk mampu mengucapkan kata-kata tersebut di lidah kita. Atau keangkuhan diri kita, kekejaman fikiran kita atau keserakahan kita membuat telinga kita tidak tahan untuk mendengar kata MAAF. Meminta maaf memang sangatlah berat. Aku sangat salut pada seseorang yang dengan rasa kerendahan hatinya, bukan berarti dia menjatuhkan harga dirinya, untuk meminta maaf. Meminta maaf bukanlah berarti menjatuhkan harga diri kita, bukan berarti menggerogoti habis jiwa kita, bukan berarti menurunkan derajat kemuliaan kita sebagai mahluk tertinggi di hadapan Allah, bukan berarti mengurangi kehebatan-kehebatan yang kita miliki. Berani meminta maaf adalah salah satu cara menunjukkan rasa penyesalan dari kesalahan yang telah kita perbuat, maaf berarti membuat jiwa kita semakin besar dan mampu lebih lapang untuk menerima kesalahan kita, maaf menunjukkan penghargaan kepada seseorang yang telah dengan berani menegur kesalahan kita. Karena, ketika seseorang masih mau menegur kita karena kesalahan kita, maka itu adalah salah satu bentuk perhatian orang tersebut pada kita. Tapi ada yang membuatku lebih salut dibanding meminta maaf dengan berani, sadar, dan hati yang lapang. Yaitu memberi maaf dengan senyuman, sadar, dan hati yang lapang. Meminta maaf, kadang-kadang terlihat sangat sulit untuk dilakukan, karena seolah-olah mengikis sebagian harga diri kita. Namun, ternyata ada yang lebih sulit lagi dilakukan, yaitu memaafkan. Memaafkan kadang-kadang jauh lebih sulit dilakukan, apa lagi ketika kesalahan yang diperbuat oleh orang lain sangat menyakiti hati kita atau berdampak sangat dalam pada kehidupan kita. Bahkan, kadang-kadang kesalahan kecil pun sangat sulit untuk kita maafkan. Namun memaafkan sangatlah mengajarkan hal penting dalam hidup. Ketika kita berani memaafan, maka kita sudah merintis hidup kita menjadi seorang yang berjiwa besar, berlapang dada, belajar menjadi seorang pemurah, dan yang paling penting adalah kita lebih bisa belajar ikhlas.

Seperti kata-kata yang sangat aku suka, yang berkaitan dengan  ilmu yang kudalami saat ini, kimia, dari sebuah novel MAMIMOMA,


“Asam klorida biasanya lebih memiliki efek merusak pada wadah tempat ia disimpan daripada objek ia dituang. Seperti itulah efek kebencian pada hati, kebencian hanya akan lebih menyakiti dan merusak hati kita dari pada orang yang kita benci….”.

Hal kedua yang tidak kalah pentingnya yang menguji keikhlasan kita dalah kesabaran. Ya SABAR. Kata sabar juga sudah tak asing ditelinga kita. Namun kadang-kadang sungguh sangat sulit untuk dilakukan. Kadang-kadang karena ego kita, kita melalaikan rasa sabar tersebut, hanya untuk menunjukkan keangkuhan kita. Seperti Riwayat seorang sahabat Rasulullah,


Taubat itu wajib bagi seseorang, tapi lebih wajib lagi baginya untuk meninggalkan dosa. Perjalanan waktu itu sangat mengherankan, tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu. SABAR ITU SULIT, TAPI HILANGNYA KESABARAN ITU LEBIH SULIT AKIBATNYA. Semua yang bisa dicapai itu dekat, tapi kematian itu lebih dekat dari semuanya (Ali Bin Abi Thalib).

Terima kasih…. Ternyata bukan hanya kata MAAF yang kadang-kadang kelu diucapkan oleh lidah kita. Kadang-kadang ketika mengungkapkan rasa terimakasih kita pada seseorang sangat sulit dilakukan. Padahal, terimakasih merupakan ungkapan yang singkat yang memilki dampak yang saaaangatttttt besar. Beberapa hari belakang, atau mungkin sebulan kebelakang ini, aku diajarkan oleh sesorang, yang dengan sangat mudahnya mengucapkan terima kasih. Kata ini sangat kecil dan singkat, namun memberikan efek yang sangat besar bagi orang yang mendengarkan, apa lagi pada orang yang di tuju. Mungkin aku juga harus belajar membiasakan mengucapkan kata-kata tersebut tulus dari hatiku. Banyak hal yang harus patut aku syukuri. Artinya aku juga harus sering-sering berterima kasih kepada sang Khalik, yang telah memberikan orang-orang yang telah hadir di dalam hidupku.


TERIMA KASIH YA ALLAH,,,,