Hmmm, judulnya, semua orang pasti tahu itulah jawabannya (tidak harus cerdas untuk mengomentarinya). Ya bagaimana bisa?!?! Tentu saja bisa!!!
Kuncinya adalah
ikhtiar, usaha, tawakkal, dan ikhlas. Teorinya sih sangat mudah, prakteknya, beuhhhh gampang-gampang susah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Beberapa minggu
yang lalu, sekitar dua minggu mungkin, aku ketemu seorang pedagang asongan di bus
Damri. Ketemu pedagang asongan di damri bukan merupakan hal yang istimewa menurutku, dan
mungkin juga menurut kebanyakan orang. Tapi, untuk pedagang yang satu ini, ada
yang spesial di mataku. Pedagang asongan ini adalah seorang bapak yang umurnya
mungkin akhir 30-an. Dia berdagang tissue, permen, atau camilan sejenisnya.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan bapak ini, sangat wajar, layaknya
tampilan seorang bapak-bapak yang biasa saja, dan layaknya seorang pedagang
asongan, berusaha menjajakan dagangannya pada setiap penumpang bus sebelum bus
itu berangkat.
Tapi, eits,
tunggu dulu... aku kenal dengan bapak itu, bukan kenal dalam arti kita pernah
kenalan atau pernah bertegur sapa lalu menjadi sahabat, bukan bukan seperti itu. Tapi, sebelumnya aku sering
melihat bapak itu, di tempat yang sama, bus Damri, tapi profesi yang berbeda.
Ya, benar, aku yakin, profesinya berbeda dan aku yakin banget, bahwa bapak itu
adalah bapak yang sama.
Ya, sekitar tiga
minggu sebelumnya (lima minggu yang lalu terhitung dari sekarang), bapak tersebut
masih berprofesi sebagai peminta sumbangan untuk pembangunan masjid disuatu
daerah yang aku tahu, tapi belum pernah ke daerah tersebut. Bapak tersebut aku
kenal, karena seringnya aku naik bus dan seringnya aku melihat bapak tersebut.
Dengan pidatonya yang sama, dan teknik yang sama, serta kotak amal yang sama,
dia meminta sumbangan dari para penumpang untuk pembangunan masjid di daerah
yang tak pernah ku kunjungi tersebut. Yah, ada sekitar sepuluh kali lah aku ketemu
dengan bapak tersebut, dan hampir 50% dari pertemuan itu aku memberikan
sumbangan pada bapak itu. Bukan bermaksud pamer, tapi hanya sekedar ingin membuat hitungan
kalau sekiranya si bapak tersebut sudah sekitar tiga bulan di bus damri tersebut,
dan mendapatkan minimal sumbangan dari lima orang penumpang dari setiap bis yang
akan berangkat, dan minimal sumbangan tersebut berjumlah sama dengan uang yang
aku sumbangkan, kira-kira berapakah yang didapatkan oleh bapak tersebut???
Oke, tidak perlu
memusingkan berapa jumlah yang didapatkan si bapak tersebut, dan apakah uang
yang kita beri benar-benar dibuat untuk pembangunan masjid atau tidak. Lupakan
hal tersebut untuk sejenak. Karena yang ingin aku ambil titik pointnya disini
adalah, si bapak itu sekarang beralih profesi.
Ya, BERALIH
PROFESI, menjadi seorang pedagang asongan. Apa istimewanya bila ia beralih profesi? Sangat istimewa menurutku. Kok bisa? Karena itu artinya dia tidak membutuhkan
belas kasihan orang lain lagi untuk mendapatkan uang. Terlepas dari uang yang dia
gunakan mungkin berasal dari sebagian hasil memungut sumbangan dari para penumpang
bis, atau 100% modalnya memang berasal dari itu. Terlepas dari itu semua, setidaknya si
bapak tersebut punya keinginan untuk merubah taraf hidupnya dengan cara yang
lebih baik dan bermartabat. Menjadi pedagang asongan bukanlah suatu pekerjaan
yang hina atau haram.
Wallahualam
bishowab dengan kejelasan halal atau tidaknya penghasilan si bapak tersebut,
tapi yang pasti aku memberikan aplaus untuk bapak tersebut, dengan keinginannya
untuk merubah taraf hidupnya. Setidaknya, bapak ini tidak berhenti pada satu titik,
menjadi seorang peminta sumbangan, yag mengharapkan belas kasihan orang lain.
Artinya bapak tersebut ingin mengubah nasib dengan ikhtiarnya.
Jadi ingat film
“Alangkah lucunya negri ini”, yang menggambarkan wajah negri ini. Dimana, di film tersebut menceritakan kisah para pencopet yang berusaha mengubah jalan
hidupnya, tapi tetap modalnya dari hasil mencopet. Disitu sih katanya itu duit
haram, tapi hanya Allah yang tahu apakah hasil akhirnya ketika mereka berhasil
berubah, halal atau tidaknya uang tersebut. Apakah bisa dikatakan mereka
bertaubat??? Wallahualam bishowab. Hanya Allah yang tahu dan berhak memberikan
penilaian.
Bagaimana pun, semua orang punya hak dan kesempatan untuk memilih dan mengubah jalan hidupnya. Because Life is a Choice...
Tapi, untuk
baiknya, maka lebih baik sumber, proses dan hasil yang kita lakukan adalah
berasal dari kebaikan sehingga bisa mencapai ridho Allah.


